Allah Yang Esa dalam Keilahian-Nya

Allah Yang Esa dalam Keilahian-Nya | Injil Kerajaan Allah

Allah Yang Esa

Injil Kerajaan Allah - Dalam berbagai kesempatan, Allah telah menyatakan diri-Nya dengan mengajar umat manusia tentang siapa diri-Nya supaya manusia dapat mengenal Allah dengan benar.
 
Seperti yang tertulis di dalam Kitab Suci:
 
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yohanes 17:3).
 
"Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal" (I Yohanes 5:20).
 
Dalam suatu pengajaran-Nya, Yesus menyampaikan kebenaran bahwa Allah itu esa, satu, tunggal, tidak ada Allah lain.
 
"Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa" (Markus 12:29).
 
Pengajaran tentang Allah yang esa juga dimuat dalam berbagai tulisan di dalam Kitab Suci yang dapat menjadi dasar dan pegangan yang kuat bagi manusia di dalam usaha mencari dan menemukan Allah.
 
"Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (I Timotius 2:5).
 
"Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin" (Yudas 1:25).
 
"Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!" (Yesaya 45:21).

Perumpamaan tentang buku dan frekuensi

Tatkala sebuah buku ada di rumah, maka dalam waktu yang bersamaan, buku tersebut tidak ada di tempat lain. Satu buku hanya dapat berada di satu tempat, dan tidak dapat berada di berbagai tempat dalam waktu bersamaan.
 
Berbeda dengan frekuensi radio. Tatkala sebuah stasiun radio melakukan siaran dengan memancarkan frekuensi, maka frekuensi radio tersebut berada di berbagai tempat sesuai jauhnya pancaran. Frekuensi radio dapat ditangkap di studio, kantor, rumah, kampus, jalan, sungai, laut, darat, udara, dan banyak tempat walaupun hanya satu.
 
Dalam hal ini, satu buku tidak dapat disamakan dengan satu frekuensi radio walaupun keduanya sama-sama berjumlah satu. Satu buku berbeda dengan satu frekuensi radio.
 
Jika frekuensi radio yang dibuat oleh manusia dapat berada dimana-mana dalam waktu yang bersamaan, bagaimanakah dengan Allah Yang Maha Tak Terbatas? Tentu Allah Yang Mahakuasa dapat hadir di semua tempat dalam waktu bersamaan, baik di Bumi maupun di Sorga.

Perumpamaan tentang manusia dan semut

Tatkala semut ada di lantai, dalam waktu bersamaan, maka semut tidak ada di kursi maupun di meja. Berbeda dengan manusia, dalam waktu bersamaan, kaki manusia di lantai, badan bersandar di kursi, sementara tangannya ada di atas meja.
 
Seumpama semut dapat berpendapat, mungkin semut akan berkata: "Manusia sama dengan aku. Jika aku di lantai, maka manusia juga berada di lantai seperti aku. Dalam waktu bersamaan, tidak mungkin manusia berada di lantai, di kursi maupun di meja."
 
Padahal faktanya tidaklah demikian. Dalam waktu bersamaan, manusia dapat berada di tiga tempat, yaitu kaki di lantai, badan di kursi, dan tangan di meja. Hal tersebut dapat dilakukan oleh manusia karena menusia lebih besar dari semut.

Jika manusia dapat berada di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan menurut ukuran semut, yaitu kaki di lantai, badan di kursi, dan tangan di meja, bagaimanakah dengan Allah Yang Mahabesar

Tentu Allah Yang Mahakuasa, Allah Yang Mahabesar dapat hadir di semua tempat dalam waktu bersamaan, baik di Bumi maupun di Sorga.

Allah dan manusia

Tatkala manusia ada di Bumi, dalam waktu bersamaan maka manusia tidak ada di langit maupun di Sorga. Tidak demikian dengan Allah, dalam waktu bersamaan, Allah dapat hadir dimanapun, baik di Bumi, di langit maupun di Sorga.
 
Mungkin bagi manusia yang belum mengetahui kebesaran Allah akan berkata: "Allah sama dengan aku. Jika Allah di Bumi, maka Allah tidak ada di Sorga. Dalam waktu bersamaan, tidak mungkin Allah berada di Bumi dan di Sorga."
 
Padahal kebenarannya tidaklah demikian. Dalam waktu bersamaan, Allah dapat hadir di segala tempat, baik di Bumi maupun di Sorga. Hal tersebut terjadi karena Allah lebih besar dari manusia, Allah Mahabesar.
 
Demikanlah hendaknya manusia memandangnya, Allah Yang Maha Esa (satu, tunggal) sangat berbeda dengan satunya manusia. Hakekat Allah tidak dapat disetarakan dengan manusia, sebab Allah bukan manusia, Ia adalah Pencipta Yang Mahabesar.
 
"Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19).

Allah juga tidak dapat disamakan dengan benda seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia lainnya.

"Kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia" (Kisah Para Rasul 17:29).
 
"TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa" (Mazmur 99:2).
 
"Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?" (Yesaya 66:1).
 
"Sebab Roh Tuhan memenuhi dunia semesta, dan Ia yang merangkum segala-galanya mengetahui apapun yang disuarakan" (Kebijaksanaan Salomo 1:7, Deuterokanonika).
 
Allah Yang Maha Esa adalah satu sebagai Pencipta, sementara manusia adalah satu sebagai ciptaan, dan dalam hal ini tidak dapat disamakan. Keesaan Allah tidak sama dengan satunya manusia, Allah esa dalam ketidakterbatasan, dalam kemahaan, dalam kebesaran, dalam kesempurnaan, sementara manusia satu dalam keterbatasan.
 
Dalam waktu bersamaan, tatkala Allah ada di Sorga, Allah juga berada di Bumi, sementara dalam keterbatasannya, tatkala manusia ada di Bumi dalam waktu bersamaan manusia tidak ada di Sorga. Allah adalah Roh, Yang Mahahadir, yang hadir di segala tempat.
 
Dalam keesaan-Nya, Roh Allah dapat hadir dimanapun, kapanpun, baik dalam satu rupa, dua rupa, tiga rupa, seribu rupa, satu milyar rupa, satu triliun rupa, bahkan dalam jumlah rupa yang tak terbatas karena Ia adalah Allah Yang Mahakuasa.
 
"Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas" (Yohanes 3:34).

Keesaan Allah dalam kodrat-Nya

Allah Yang Maha Esa sebagai Pribadi Yang Sempurna tentu tidak mudah dipahami dengan sempurna oleh manusia. Keterbatasan manusia tidaklah mungkin mampu mengenal Allah yang tak terbatas. Mungkin, jika mempergunakan nilai perbandingan antara manusia dan Allah, manusia bernilai satu sedangkan Allah bernilai tak terhingga (1:~). Sebagai ciptaan, manusia hanya mampu memahami sebagian kecil saja dari diri Sang Pencipta.
 
Dalam keberadaan-Nya yang sempurna, Allah berkenan ditemukan oleh ciptaan-Nya. Tentu Allah mengenal siapa manusia ciptaan-Nya. Namun sebaliknya, bagi manusia yang tidak pernah melihat Allah, bagaimana mungkin dapat mengenal-Nya? Sementara Allah bersemayam dalam terang yang tak terhampiri? Suatu hal yang mustahil, baik bagi manusia maupun bagi makhluk lain untuk dapat menggapai Allah.
 
Sebagai Allah yang sempurna dan tak terbatas,- yang tidak mungkin dapat dilihat oleh ciptaan-Nya, maka Allah yang tak terbatas berkenan membatasi diri-Nya agar keilahian-Nya dapat disentuh dan dipegang oleh ciptaan-Nya, dengan tujuan agar segala makhluk dapat menemukan diri-Nya.
 
Memang, dalam keberadaan Allah yang sesungguhnya, tak seorangpun dapat melihat-Nya, dan tak satu makhluk pun dapat menjamah-Nya. Untuk mengelola dan menjembatani antara diri-Nya dan ciptaan-Nya, Allah membentuk sistem dalam diri-Nya sebagai yang sulung dari segala ciptaan-Nya yang diperkenalkan sebagai sistem Allah.
 
Sebagai Roh Yang Sempurna, Allah berkenan menyatakan diri-Nya dalam rupa yang dapat ditangkap oleh segala makhluk. Rupa Allah yang telah dibatasi (diselaraskan) tersebut adalah bagian dari diri-Nya yang telah disetarakan dengan ciptaan-Nya, dengan tujuan agar ciptaan-Nya dapat berbahasa dengan-Nya.
 
Bagian dari diri Allah yang telah disetarakan tersebut ada di dalam rupa Yesus Kristus, karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Sebab tanpa Allah berkenan menyatakan diri dalam rupa “ciptaan” maka Allah Yang Roh tidak mungkin dapat terjangkau oleh ciptaan-Nya.
 
Seperti seorang ayah yang harus “menjadi bayi” untuk dapat berbicara dengan anaknya yang masih bayi,- seorang bayi tidaklah mungkin dapat memahami bahasa ayahnya jika sang ayah mempergunakan bahasa orang dewasa saat berbicara dengan sang bayi. Kala itu, sang ayah tertawa seperti bayi, bermain seperti bayi, berbicara seperti bayi dan segala sesuatu berlaku dan bertindak seperti bayi demi tujuan agar dapat berkomunikasi dengan bayinya; dan ia rela untuk “menjadi bayi”.
 
Namun kelak, tatkala sang bayi telah dewasa, sang ayah tidak perlu lagi “menjadi bayi”, melainkan ia menjadi ayah yang dapat berkomunikasi dengan putranya, bahkan dapat menjadi sahabat dan berkarya bersama-sama. Untuk itulah Allah berkenan “menjadi ciptaan” untuk dapat mengimbangi kemampuan ciptaan-Nya yang terbatas, sampai waktunya kelak ciptaan-Nya bertumbuh menjadi dewasa dan dapat semakin mengenal Allah dengan sempurna.
 
Seperti halnya ada tiga unsur dalam diri manusia, yaitu roh, jiwa dan tubuh. Roh sebagai bagian yang tidak kelihatan, sementara jiwa dan tubuh sebagai bagian yang kelihatan. Kepala, tubuh, kaki, tangan, mata, telinga, hidung, mulut merupakan bagian tubuh yang terlihat. Sementara, jiwa terlihat ekpresinya tatkala sedang sedih, bahagia, marah, sabar, gentar, berani dan berjuta ekspresi lainnya. Tubuh, jiwa dan roh merupakan tiga unsur manusia. Tiga unsur manusia dalam satu kesatuan yang masing-masing unsur memiliki tempat, tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
 
Demikianlah gambaran Allah dalam ke-ilahian-Nya. Allah Yang Maha Esa memiliki berbagai keilahian yang ada di dalam diri-Nya yang diperkenalkan sebagai Bapa, Anak/Firman/Yesus Kristus dan Roh Kudus.
 
Mengapa Allah memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus dan tidak memakai istilah Ilahi? Bukankah Allah dapat melakukan? Ya! Allah dapat melakukan. Namun, hal tersebut kembali kepada keterbatasan manusia yang tidak mungkin mampu menangkap Allah yang tidak terbatas.
 
Jika Allah memakai bahasa Allah, tentu manusia tidak dapat mengerti. Seperti seorang bayi misalnya, yang diajarkan tentang unsur yang ada di dalam ayahnya. Seorang bayi tidak akan mengerti tentang roh, jiwa dan tubuh yang ada di dalam sang ayah. Yang diketahui oleh seorang bayi hanyalah kehadiran sang ayah yang dapat dirasakan olehnya.
 
Namun kelak, taktkala sang bayi bertumbuh menjadi dewasa, maka ia akan memahami sang ayah dengan lebih sempurna. Demikian halnya dengan Allah, Allah mengajarkan sejauh yang dapat ditangkap oleh manusia, dengan bahasa manusia. Kelak, taktkala manusia memasuki kedewasaan roh, ia akan mengenal Allah dengan lebih sempurna.
 
"Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal" (I Korintus 13:12).

Bapa, Firman dan Roh Kudus

Di dalam Injil Kerajaan Allah, yaitu dalam kebenaran, Allah berkenan mengajarkan tentang berbagai keilahian-Nya. Allah memperkenalkan diri dengan berbagai keilahian yang ada di dalam diri-Nya agar dapat dikenal oleh manusia. Keilahian Allah diantaranya Bapa, Firman dan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu.
 
"Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu]" (I Yohanes 5:7).

1. Bapa, adalah keilahian Allah yang tidak kelihatan

Bapa tidak dapat dilihat oleh siapapun, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, dari pada-Nyalah berasal segala sesuatu.
 
Bapa adalah hakekat keilahian Allah yang tidak kelihatan.
 
"Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia" (I Timotius 6:16).
 
"Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup" (I Korintus 8:6).
 
"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (Yohanes 1:18).
 
"Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita (I Yohanes 4:12). 

2. Firman/Anak/Yesus Kristus, adalah keilahian Allah yang kelihatan

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, Sang Firmanlah yang menciptakan dan menjadikan segala sesuatu, Firman itu kemudian datang ke dunia menjadi manusia yang adalah Juruselamat dunia, yang dikenal dengan nama Yesus yang menyelamatkan umat manusia dari dosa, Imanuel yang berarti Allah menyertai kita, Kristus, Mesias, Isa Almasih, yang diurapi.
 
Yesus adalah hakekat Allah yang kelihatan.

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yohanes 1:1-3).

"Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia" (Kolose 1:16).

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran" (Yohanes 1:14).
 
"Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!" (Yesaya 45:21).
 
"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia" (Yohanes 4:42).
 
"Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21).
 
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel -- yang berarti: Allah menyertai kita" (Matius 1:23).

"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16).

Dalam hekekat keilaihan, Anak dan Bapa adalah satu.

Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30).

3. Roh Kudus, adalah keilahian Allah yang tidak terbatas, yang menyertai dan tinggal dalam manusia secara pribadi

Allah Yang Mahakusa, adalah Roh yang tidak terbatas, tak terhitung.

"Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas" (Yohanes 3:34).

Roh Kudus adalah Roh Allah yang dapat dirasakan kehadiran-Nya oleh manusia, yang mengajarkan kebenaran, yang akan menyertai dan akan tinggal dalam diri manusia secara pribadi.

Roh Kudus adalah hakekat Allah yang dapat dirasakan kehadiran-Nya, yang mengajar, mengingatkan, menyertai dan akan tinggal dalam diri manusia.
 
"Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yohanes 14:26).
 
"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu" (Yohanes 14:15-17).

Seperti gambaran tiga unsur dalam diri manusia, yaitu roh, jiwa dan tubuh yang ketiganya adalah satu (I Tesalonika 5:23), demikianlah juga Bapa, Anak dan Roh Kudus merupakan "tiga bagian tubuh ilahi" yang sesungguhnya adalah satu.

"Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: BapaFirman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu]" (I Yohanes 5:7).

Implementasi iman

Kini ketiga keilahian Allah, yaitu Bapa, Firman, dan Roh Kudus dapat dipelajari dan dikenal oleh manusia; manusia dapat percaya, beriman, menyembah, beribadah, dan memuliakan Allah, sehingga memperoleh hidup yang kekal.
 
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yohanes 17:3).
 
"Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal" (I Yohanes 5:20).

Keilahian Allah yang tak terbatas

Tentu selain tiga keilahian yang telah diperkenalkan oleh Allah kepada manusia oleh Yesus Kristus, masih banyak hal yang tidak tertulis di dalam Kitab Suci, sebab jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
 
"Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya" (Yohanes 20:30-31).
 
"Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu" (Yohanes 21:25).
 
Sebab segala sesuatu adalah dari Allah, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Video: Allah Yang Esa dalam Keilahian-Nya

(Injil Kerajaan Allah)

Ayat-ayat rujukan yang dipergunakan di dalam situs Injil Kerajaan Allah berasal dari Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974 dan Lembaga Biblika Indonesia.