Tujuan Penciptaan Manusia Sebelum Dunia Dijadikan, Sungguh Menakjubkan!

Bumi, Sumber Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi
Bumi, sumber gambar Wikipedia.
Pada mula saat Allah hendak menciptakan makhluk manusia, Allah memiliki berbagai tujuan atas penciptaannya. Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, namun memiliki tujuan ilahi yang sangat mulia.

Allah menghendaki agar kelak manusia memiliki standar moral (akhlak) sorgawi, berkodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, yang sempurna, menyembah, beribadah dan berkarya bagi kemuliaan Allah.

"Karena itu haruslah kamu sempurna" (Matius 5:48).

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat" (I Tesalonika 5:23).

Dan dalam berbagai kesempatan, Allah mengingatkan umat manusia agar kembali kepada awal tujuan atas penciptaannya, yaitu agar manusia menyembah, beribadah, memuliakan Allah, dan bertumbuh dalam kesempurnaan ilahi.

"Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin" (I Timotius 1:17).

Mungkinkah manusia meraih kesempurnaan?
Bagaimana manusia dapat bermartabat sorgawi, berkodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, dan sempurna dalam seluruh hidupnya bagi kemuliaan Allah?

Melalui tulisan ini akan disajikan dengan teratur, dari awal hingga akhir, supaya setiap orang dapat mengetahui, bahwa tujuan dari penciptaan manusia di dunia adalah untuk memiliki karakter sorgawi, berkodrat ilahi, kudus dan tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, dapat meraih kesempurnaan, baik dalam hati, pikiran, perkataan dan karya, bagi kebahagiaan diri dan sesama, di dunia maupun untuk persiapan hidup yang kekal bagi kemuliaan Allah. Amin.

Manusia

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dinamis dan berakal budi, terdiri atas tubuh alamiah dan tubuh rohaniah. Sebagai makhluk dinamis, manusia memiliki kehendak, pertimbangan, pikiran, perasaan dan tindakan.

Tujuan penciptaan manusia sebelum dunia dijadikan

Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, melainkan dibentuk dengan tujuan mulia, yaitu agar dapat menjadi pribadi yang sempurna seperti diri-Nya. Manusia dipersiapkan agar kelak dapat menjadi makhluk yang sempurna di antara ciptaan-Nya.

Bahkan, ketentuan itu telah Allah tetapkan sebelum dunia dijadikan, jauh sebelum Bumi ada, agar manusia kudus dan tak bercacat (sempurna) di hadapan-Nya.

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya"  (Efesus 1:4).

Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia. Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Sempurna menghendaki agar suatu saat makhluk manusia pada tingkat tertentu mampu mencapai kesempurnaan ilahi. Kesempurnaan Allah tawarkan kepada seluruh umat manusia, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa.

Dan Allah menetapkan suatu standar kesempurnaan untuk manusia. Allah menghendaki kesempurnaan manusia kelak bukan seperti malaikat, maupun sempurna seperti makhluk ciptaan lain, namun kesempurnaan yang Allah kehendaki adalah serupa dengan Sang Khalik. Tentu yang dimaksud kesempurnaan manusia dalam batas sempurna sebagai ciptaan, dan tidak sama dengan Allah.

"Karena itu haruslah kamu sempurna" (Matius 5:48).

"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yohanes 17:23).

"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat" (Mazmur 8:4-10).

"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kejadian 1:26).

Sempurna seperti Allah berarti suatu saat manusia akan berkodrat ilahi, yaitu memiliki sebagian kemuliaan Allah, yang ditandai dengan memiliki perasaan, pertimbangan, berpikir dan berkarya seperti Allah.

Tubuh alamiah dan tubuh rohaniah

Dalam kodratnya sebagai ciptaan Allah, jati diri manusia terdiri dari dua unsur utama, yaitu tubuh alamiah dan tubuh rohaniah.

"Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah" (I Korintus 15:44-48).

Tubuh alamiah

Tubuh alamiah terdiri atas dua unsur, yaitu tubuh daging dan jiwa, bersifat jasmani, tidak kekal. Khusus untuk Nabi Adam, tubuh alamiah berasal dari debu tanah Bumi. Sementara bagi keturunan Adam dan Hawa, tubuh alamiah diciptakan dari hasil persetubuhan laki-laki dan perempuan. Tatkala sel sperma dan sel telur bertemu, maka akan terjadi pembuahan dan akan menjadi calon anak manusia. Penciptaan tubuh alamiah manusia berlangsung saat dunia telah dijadikan.

"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya" (Mazmur 139:13-16).

"Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga" (I Korintus 15:47).

Umat manusia yang dilahirkan di dunia adalah saudara jasmani, berhubung salah satu unsur dirinya, yaitu tubuh alamiahnya berasal dari satu keturunan, yaitu dari Nabi Adam dan Hawa.

Tubuh rohaniah

Tubuh rohaniah terdiri atas roh yang berasal dari Allah, bersifat kekal. Dan suatu hal yang sangat ilahiah adalah bahwa roh manusia merupakan keturunan Allah, berasal dan bersumber dari Allah, yang "dilahirkan" oleh Roh Allah (Yohanes  3:6).

"Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia" (Kisah Para Rasul 17:28-29).

"Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorgaSama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi" (I Korintus 15:47-49).

Seluruh manusia yang diciptakan di dunia adalah saudara ilahi, berhubung salah satu unsur dirinya, yaitu tubuh rohaniahnya berasal dari keturunan yang Satu, yaitu dari Allah.

"Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara"  (Ibrani 2:11).

Tubuh rohaniah manusia diciptakan atau dilahirkan jauh hari sebelum langit dan Bumi diciptakan, sebelum bintang-bintang terbentuk dan galaksi-galaksi menghiasi jagat raya, roh manusia telah ada.

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4).

Tentu yang dimaksud dengan “kita” adalah tubuh rohaniah (roh) dan bukan tubuh alamiah (tubuh daging dan jiwa), sebab sebelum dunia dijadikan, tubuh alamiah belum ada. Jika roh telah dipilih sebelum dunia dijadikan, berarti roh diciptakan sebelum dunia ada.

Seperti halnya hikmat, Allah ciptakan sebelum Bumi ada, demikian juga roh manusia diciptakan pada era waktu pra dunia.

"TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.

Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.
Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air.
" (Amsal 8:22-24).

Kesatuan tubuh alamiah dan tubuh rohaniah

Kesatuan antara tubuh alamiah (tubuh daging dan jiwa) dan tubuh rohaniah (roh) inilah yang disebut sebagai manusia.

"Demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kejadian 2:7).

"Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi" (Mazmur 104:30).

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat" (I Tesalonika 5:23).

Tujuan manusia di dunia

Sesuai rencana Allah sebelum dunia dijadikan, yaitu agar manusia menjadi makhluk yang sempurna, sesungguhnya keberadaan seluruh manusia yang dilahirkan ke dunia untuk merealisasikan rencana Allah atas dirinya agar menjadi sempurna.

Meskipun setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, pada dasarnya seluruh umat manusia yang dilahirkan di dunia memiliki tujuan yang sama, yaitu berusaha meningkatkan mutu dirinya dengan jalan menggenapkan seluruh kehendak Allah agar memiliki standar moral sorgawi, berkodrat ilahi, berakhlak luhur dan mulia, hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya, untuk meraih cita-cita rohnya agar sempurna seperti yang difirmankan Tuhan:

"Karena itu haruslah kamu sempurna" (Matius 5:48).

Bagaikan orang yang hendak mendaki puncak gunung yang tinggi, setiap orang menempuh dengan caranya sendiri, namun semua orang memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai puncak gunung. Demikian juga dengan tiap-tiap orang yang dilahirkan di dunia, yang terdiri dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa yang berbeda, manusia memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai kesempurnaan ilahi.

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan" (Kolose  1:28).

 Kesempurnaan ilahi menjadi yang utama bagi tiap orang di dunia.

Manusia jatuh dalam dosa

Kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan perubahan arah hidup, hubungan dengan Allah mulai terputus, terkena hukum dosa dan hukum maut, bayang-bayang neraka dan sorga yang belum jelas, serta kecenderungan berbuat jahat semakin besar yang akhirnya menghambat proses kesempurnaan, dan bahkan tujuan mencapai kesempurnaan dapat mengalami kegagalan.

Dosa merupakan pelanggaran kedaulatan Allah

Tatkala manusia jatuh dalam dosa, sesungguhnya manusia telah melanggar kedaulatan Allah yang berkuasa atas dirinya. Sebagai ciptaan, seharusnya manusia tunduk dan hormat kepada Allah dengan seluruh keberadaannya, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, namun sebaliknya manusia justru berbuat dosa.

"Ya TUHAN, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu" (Yeremia 14:20).

Tatkala seseorang tidak menghormati hadirat Allah dengan tidak memperhatikan segala firman dan kehendak-Nya, itulah pelanggaran terhadap kedaulatan Allah.

"Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka.
Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!"
Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing" (Kisah Para Rasul 12:21-23).

Dosa merupakan pelanggaran hukum Allah

Demikan juga saat tidak taat kepada hukum Allah, manusia telah melanggar hukum-Nya.

"Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1 Yohanes 3:4).

Tatkala seseorang berzinah, mencuri, menyembah berhala dan melakukan segala perbuatan yang dilarang hukum Allah, itulah pelanggaran terhadap hukum Allah.

Oleh sebab itu, saat manusia jatuh ke dalam dosa, ada dua hal mendasar yang dilanggar, yaitu pelanggaran terhadap kedaulatan Allah dan pelanggaran terhadap hukum Allah.

Akibat dosa

Dosa mengakibatkan perubahan keadaan dan arah hidup manusia, dari yang baik menjadi tidak baik, dari taat menjadi tidak taat, tumbuhnya tabiat dosa dalam diri, terhalangnya perlindungan dan berkat Allah, terputusnya hubungan dengan Allah, hingga hukuman akibat dosa (Yesaya 59:1-19).

Terpisah dengan Allah

Hubungan pribadi manusia dengan Allah merupakan hal yang terutama dan yang pertama. Tidak ada hal yang lebih utama dari hubungan dengan Allah. Namun, tatkala jatuh dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah mulai renggang, dan bahkan terputus.

"Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu" (Yesaya  59:2).

Kehilangan kemuliaan Allah

Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kemuliaan yang telah Allah berikan, termasuk kesempatan untuk meraih kesempurnaan ilahi menjadi pudar.

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

Pertolongan Allah terhalang 

Sebagai Allah Yang Maha Kasih, Ia selalu berkehendak untuk menolong manusia, tangan-Nya selalu terulur setiap saat. Namun oleh karena dosa, seringkali manusia justru tidak mencari pertolongan-Nya, namun sebaliknya, menempuh jalannya sendiri, sehingga tangan Tuhan seolah-olah tidak pernah sampai kepadanya.

"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;

tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu" (Yesya 59:1-2).

Mendatangkan kutuk

Dosa akan mendatangkan berbagai kutuk, mulai dari sulit mencari rezeki dan usaha, tidak beruntung, tertimpa berbagai sakit penyakit, sampar, diserang hama, masalah rumah tangga, buah kandungan yang tertutup, ketidakamanan, tidak tenteram, hati yang gelisah, kuatir, jiwa yang merana, bahkan keberadaannya dapat punah dan binasa (Ulangan 28:15-68).

"Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau" (Ulangan 28:15).

Segala kutuk itu akan datang ke atasmu, memburu engkau dan mencapai engkau, sampai engkau punah, karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan tidak berpegang pada perintah dan ketetapan yang diperintahkan-Nya kepadamu"  (Ulangan 28:45).

"Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut" Mazmur 107:17-18).

"Mengapakah engkau berteriak karena penyakitmu, karena kepedihanmu sangat payah? Karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar" (Yeremia 30:15).

Menghalangi yang baik

Tuhan Yang Maha Baik selalu mengulurkan segala kebaikan bagi manusia. Namun, kesalahan dan dosa dapat menghambat uluran tangan-Nya.

"Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu" (Yeremia 5:25).

Melahirkan karakter buruk

Tabiat dosa dapat mengakibatkan lahirnya karakter buruk. Manusia akan mencintai dirinya sendiri, tidak mempedulikan nilai-nilai luhur, etika, norma, agama (2 Timotius 3:1-9).

"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya" (2 Timotius 3:2-5).

Upah dosa adalah maut

Pertanggungjawaban akan dosa begitu berat, karena setiap orang berdosa akan mengalami maut, baik maut dalam arti kematian tubuh alamiah maupun tubuh rohaniah.

"Sebab upah dosa ialah maut" (Roma 6:23).

Penghakiman dan hukuman

Dosa akan membawa seseorang ke dalam penghakiman di akhir zaman. Setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Penghakiman akan menentukan seseorang masuk ke dalam kehidupan kekal, sorga, atau kematian kekal, Neraka. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

"Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.

Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.

Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu" (Wahyu 20:11-15).

Begitu dahsyatnya akibat dosa dan kejahatan bagi manusia, baik selama di dunia maupun setelah kematian, yang mengakibatkan tujuan kelahirannya di dunia untuk memiliki moral sorgawi, hidup kudus tak bercacat dalam rangka meraih kesempurnaan ilahi dapat mengalami kegagalan, dan bahkan ada kemungkinan tidak dapat kembali ke sorga.

Dua jenis pengampunan

Sejak kejatuhan manusia pertama Adam dalam dosa, mengakibatkan semua orang jatuh ke dalam dosa. Tidak ada seorangpun yang tidak berdosa, semua orang telah jatuh dalam dosa.

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 5:12).

Dan pelanggaran yang dilakukan oleh Adam mengakibatkan penghakiman dan penghukuman bagi semua orang.

"Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman" (Roma 5:16).

Dalam keadaan berdosa, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dosa, maupun mengharapkan keselamatan dari orang lain.

Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa, ada dua hal mendasar yang dilanggar, yaitu pelanggaran terhadap kedaulatan Allah sebagai pribadi, dan pelanggaran terhadap hukum Allah sebagai ketetapan hukum. Manusia membutuhkan pengampunan atas dua jenis pelanggaran tersebut, yaitu pengampunan atas pelanggaran kedaulatan Allah, dan pengampunan atas pelanggaran hukum Allah.

Adalah seorang pencuri yang mencuri barang berharga di rumah seorang imam. Pencuri tersebut menjual hasil curiannya dan dipergunakan untuk berfoya-foya. Dalam perjalanan waktu, pencuri tersebut akhirnya tertangkap oleh petugas.

Pencuri tadi menyadari kesalahannya dan menyesal. Dia datang kepada imam tersebut dan memohon pengampunan atas perbuatan yang salah, dan imam tersebut mengampuni dan akhirnya mereka berpelukan dan berdamai.

Pencuri itu pun datang kepada petugas dan melakukan hal yang sama, memohon pengampunan atas perbuatannya mencuri, namun petugas berkata:

"Maaf saudara, kami tidak dapat memberikan pengampunan, sebab siapa yang melakukan pencurian harus dihukun. Kami bertanggung jawab kepada hukum. Hukum harus dijalankan dengan benar dan adil. Saudara kedapatan mencuri dan akan dihakimi dan akhirnya dihukum sampai masa hukuman selesai."

Dalam hal ini, pencuri memperoleh kemurahan berupa pengampunan dari imam tersebut, namun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, dan menjalani proses hukuman hingga masa hukuman berakhir.

Pengampunan atas pelanggaran kedaulatan Allah

Dosa pelanggaran kepada kedaulatan pribadi Allah akan diampuni. Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni segala dosa manusia tatkala seruannya dipandang layak untuk memperoleh pengampunan.

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya" (Yesaya 55:6-7).

Pengampunan atas pelanggaran hukum Allah

Hukum Allah merupakan ketetapan-ketetapan Allah untuk mengelola, mengatur segala ciptaan-Nya, yang dijalankan dengan kebenaran dan keadilan dan kebijaksanaan. Hukum Allah berlaku untuk semua ciptaan, dijalankan di segala tempat, baik di dunia maupun di sorga.

"Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya" (Mazmur 119:160).

Pada saat tidak taat kepada hukum Allah, manusia telah melanggar hukum-Nya.

"Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1 Yohanes 3:4).

Setiap manusia yang melakukan pelanggaran hukum Allah akan mempertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat, yaitu pada saat penghakiman.

"Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:12).

Dosa pelanggaran terhadap hukum Allah berkaitan dengan ketetapan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab, yang tidak dapat dibebaskan dengan pengakuan dosa.

Bukti bahwa pelanggaran terhadap hukum Allah belum memperoleh pengampunan adalah akan adanya penghakiman, dimana semua orang akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, baik maupun jahat.

"Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.

Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:11-12).

Seorang yang mencuri dapat memperoleh pengampunan dari pemilik barang yang dicuri, namun ia harus tetap bertanggung jawab di hadapan hukum, dan menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dari dua hal pelanggaran yang mendasar yaitu pelanggaran terhadap kedaulatan Allah dan pelanggaran terhadap hukum Allah, manusia membutuhkan pengampunan terhadap dua jenis pelanggaran tersebut.

Dan dalam hal ini manusia baru memperoleh pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah saja, belum memperoleh pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah, sehingga manusia masih harus mempertanggungjawabkan di takhta pengadilan Allah.

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah" (Roma 14:10).

Manusia tidak memiliki jalan keluar untuk mengatasi akibat dari pelanggaran terhadap hukum Allah selain harus mempertanggungjawabkan pada saat penghakiman kelak.

Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dalam kasih, Allah telah menyediakan jalan keluar bagi manusia agar memperoleh pengampunan yang sempurna, baik pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah.

Dengan jalan demikian, manusia dapat melanjutkan proses menuju kesempurnaan ilahi, seperti tujuan awal penciptaannya.

Manusia dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan

Allah Yang Mahatahu, pada mula pertama, sebelum Bumi ada, saat dimana Allah hendak merencanakan untuk menciptakan makhluk manusia agar memiliki moral sorgawi, kudus dan tak bercacat, dan sempurna di hadapan-Nya, Allah mengetahui bahwa suatu saat manusia akan jatuh ke dalam dosa, walaupun Allah telah mencegah dan melindunginya dengan firman-Nya, namun manusia memilih tidak taat.

Untuk menolong manusia keluar dari dosa, dan agar dapat kembali meraih kesempurnaan ilahi, Allah telah menyediakan berbagai cara yang telah dipilih dan disediakan sebelum dunia dijadikan, dan dinyatakan pada zaman akhir.

"Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (I Petrus 1:20 ).

Allah mengirimkan berbagai bentuk pertolongan, mulai dari mengutus para malaikat dan para nabi, dan akhirnya Allah sendiri hadir ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa, agar dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan, yaitu kesempurnaan.

Keselamatan

Pada mula pertama, sebelum Bumi ada, saat dimana Allah hendak merencanakan untuk menciptakan makhluk manusia, sesungguhnya Allah mengetahui bahwa suatu saat manusia akan jatuh ke dalam dosa, tidak taat kepada-Nya.

Manusia akan menanggung akibat dosa yang begitu berat, yang tidak dapat diselesaikan oleh manusia sendiri, seperti halnya dengan pelanggaran terhadap hukum Allah yang tidak dapat dihapuskan begitu saja.

Untuk menolong manusia keluar dari dosa, Allah telah menyediakan jalan keluar yang telah disediakan dan dipilih sebelum dunia dijadikan, dan dinyatakan pada zaman akhir.

"Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (I Petrus 1:20 ).

"TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum Bumi ada" (Amsal 8:22-23).

Pertolongan yang Allah sediakan sebelum dunia dijadikan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia disebut keselamatan, yang telah diperkenalkan kepada segala bangsa.

"TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa" (Mazmur 98:2).

"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (I Timotius 2:4).

Keselamatan merupakan kasih karunia Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dengan jalan menebus dari hukum dosa dan hukum maut agar manusia memperoleh penebusan dan pengampunan dari segala dosa, baik pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah; dengan demikian manusia dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan, untuk dibentuk menjadi ciptaan yang sempurna seperti Allah.

Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia, dan dengan jalan keselamatan manusia dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan.

"Karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu" (I Petrus 1:9-10).

Allah hadir sebagai penebus

Untuk menyelamatkan umat manusia, Allah tidak mengutus duta atau utusan, melainkan Allah sendiri yang hadir untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa agar kembali menjadi milik-Nya.

"Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala" (Yesaya 63:9).

"Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya" (Yohanes 12:46-47).

"Di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa" (Kolose 1:14).

Allah satu-satunya Juruselamat yang menyelamatkan dunia, dan tidak ada yang lain.

"Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah" (Yesaya 43:10-12).

"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12).

Dan keselamatan yang datang dari Tuhan inilah yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia di seluruh dunia, karena oleh-Nya manusia diselamatkan.

"Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!" (Yesaya 25:8-9).

Keselamatan bagaikan air yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Namun, manusia harus mengambil air itu dan meminumnya.

Demikian juga dengan keselamatan, manusia harus meraihnya dengan jalan menyadari segala dosanya dan percaya kepada penebusan-Nya, datang bertobat dan memohon pengampunan kepada Allah Sang Juruselamat.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (I Yohanes 1:9).

Dengan keselamatan manusia memiliki kesempatan untuk memperoleh pengampunan yang sempurna, yaitu pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah. Itulah pengampunan yang sempurna yang diharapkan oleh setiap orang.

Tujuan keselamatan

Sesungguhnya, keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia memiliki tujuan yang mendasar. Manusia bukan sekedar diselamatkan dari hukum dosa dan hukum maut serta dibebaskan dari hukuman kekal, namun Allah menghendaki agar manusia melanjutkan pekerjaan baiknya dalam merealisasikan kesempurnaan yang telah Allah tetapkan sebelum dunia dijadikan.

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Efesus 2:8-10).

Keselamatan bukanlah puncak dari iman, namun awal dari manusia baru untuk melanjutkan proses kesempurnaan.

Transisi menuju kesempurnaan

Tidaklah mudah bagi manusia berdosa yang telah ditebus untuk dikembalikan kepada rancangan Allah untuk menjadi makhluk yang sempurna, walaupun Allah telah menyediakan berbagai pertolongan ilahi.

Manusia yang telah siap diproses menjadi sempurna adalah seumpama seorang yang memutuskan untuk mendaki gunung yang tinggi. Dia rela meninggalkan segala kenyamanan dan siap menempuh perjalanan yang berat.

Tatkala orang lain berkumpul dengan keluarga, mungkin dia seorang diri di belantara.
Tatkala orang lain sedang makan makanan yang lezat, mungkin dia makan apa adanya.
Tatkala orang lain sedang tidur nyenyak di kamar, mungkin dia harus tidur di atas tanah dan batu.
Tatkala orang lain dalam keadaan aman, mungkin dia harus menghadapi bahaya di perjalanan.
Tatkala orang lain sedang istirahat, mungkin dia harus berjalan terus untuk mendaki.
Sampai akhirnya dia mencapai puncak gunung.

Manusia yang telah matang dan siap sempurna akan meninggalkan keduniawian dan segala kenikmatan dosa, dan siap menempuh perjalanan yang berat hingga mencapai kesempurnaan di dalam Allah.

"Yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibrani 12:2).

Melalui jalan keselamatan, perintah untuk menjadi sempurna bukan suatu hal yang mustahil lagi, karena Allah menganugerahkan berbagai pertolongan sorgawi untuk meraihnya. Dan dalam berbagai kesempatan Allah berulang-ulang menyampaikan kepada manusia tentang kesempurnaan ilahi.

"Karena itu haruslah kamu sempurna" (Matius 5:48).

"Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yohanes 17:22-23).

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan" (Kolose 1:28).

Elemen kesempurnaan

1. Kudus

Salah satu elemen kesempurnaan adalah kekudusan. Manusia sempurna adalah orang yang telah mati bagi dosa, tidak ada lagi kodrat dosa, tidak ada keinginan dan hasrat dosa, tiada terkandung dosa dalam hati dan pikiran, tidak berdosa dalam perkataan dan perbuatan. Dalam hal ini manusia mencapai tahap tidak dapat berbuat dosa lagi.

"Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa" (Roma 6:11).

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9).

Dalam seluruh keberadaannya adalah kudus, suci, tak tercemar seperti Allah.

"Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Petrus 1:15-16).

2. Tak bercacat

Seluruh keberadaan tubuh, jiwa dan roh sempurna dengan tak bercacat di hadapan Allah. Tiada cela dan noda dalam seluruh keberadaannya, baik dalam hati, pikiran, pertimbangan, perkataan dan perbuatan.

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat" (I Tesalonika 5:23).

3. Berkeadaan seperti Allah

Manusia memasuki dalam bersuasana dan berkodrat ilahi, yaitu manusia ciptaan Allah yang telah dibentuk dan yang telah menjadi sempurna, yang kudus, tak bercacat, tak bercela, tak bernoda, berkodrat ilahi, yang memiliki perasaan, pertimbangan, kehendak, pikiran, kasih, karya, dan berkeadaan seperti Allah, sehingga layak menjadi ciptaan Allah yang sempurna.

Sebagai perumpamaan,

Allah Maha Kasih, kasih-Nya tak terbatas, maka manusia sempurna juga memiliki sebagian kasih Allah; Allah Maha Adil, keadilannya tidak berpihak, maka manusia sempurna juga memiliki sifat keadilan; Allah mencitai semua makhluk-Nya, maka manusia sempurna juga mencitai semua orang, dari segala bangsa, kaum, bahasa dan mencitai semua agama di seluruh dunia.

"Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia" II Petrus 1:4).

"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (I Timotius 6:11).

"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:vapakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat" (Mazmur 8:4-6).

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4).

Di dalam Injil Kerajaan Allah, manusia menjadi satu dengan Allah, karena Allah berkenan tinggal di dalam dirinya dan berkarya bersama manusia.

"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yohanes 17:23).

Kesempurnaan bagi kemuliaan Allah

Puncak dari segala penciptaan atas keberadaan dan kesempurnaan manusia adalah untuk menjadi kawan sekerja Allah, dan berkarya bersama-Nya, bagi kemuliaan Allah, dan kebahagiaan dan sukacita manusia.

"Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah" (I Korintus 3:9).

"Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" (Yesaya 43:7).

"Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita" (Yudas 1:24).

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

Inilah salah satu tujuan utama manusia dilahirkan di dunia, yaitu untuk memproses diri menjadi makhluk yang bermartabat sorgawi, mengambil kodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, yang sempurna, menyembah, beribadah dan berkarya bagi kemuliaan Allah.

Injil Kerajaan Allah menyediakan berbagai fasilitas sorgawi untuk mewujudkan agar manusia menjadi makhluk yang bermartabat sorgawi, mengambil kodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, yang sempurna, menyembah, beribadah dan berkarya bagi kemuliaan Allah. Amin.
(Injil Kerajaan Allah)

Program Lanjutan


Tujuan utama manusia dilahirkan di dunia adalah untuk memproses diri menjadi makhluk yang berkarakter sorgawi, mengambil kodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, yang sempurna, menyembah, beribadah dan berkarya bagi kemuliaan Allah. Amin.

Bahkan, rancangan Allah terhadap manusia agar kelak menjadi kudus dan tak bercacat atau sempurna telah Allah tetapkan sebelum dunia dijadikan.

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya"  (Efesus 1:4).

"Karena itu haruslah kamu sempurna" (Matius 5:48).

Injil Kerajaan Allah menyediakan berbagai fasilitas sorgawi untuk mewujudkan agar manusia menjadi makhluk yang bermartabat sorgawi, mengambil kodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, yang sempurna, menyembah, beribadah dan berkarya bagi kemuliaan Allah. Amin.

Untuk merealisasikan dalam pembentukan pribadi agar setiap orang memiliki martabat sorgawi yang kudus, tak bercacat dan sempurna, belajar bersama dilanjutkan dengan tatap muka, agar dapat saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, dan saling membangun, sehingga dari hari ke hari dapat bertumbuh dan mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya, hingga mencapai kesempurnaan.

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat" (I Tesalonika 5:23).

Silahkan mengisi formulir kontak di bawah ini!

Name:
E-mail: *
Message: *