Tujuan Penciptaan Manusia Sebelum Dunia Dijadikan, Sungguh Menakjubkan!

Bumi, Sumber Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi
Bumi, sumber gambar Wikipedia.
"TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing" (Amsal 16:4a).

"Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin" (I Timotius 1:17).

Pada mula saat Allah hendak menciptakan makhluk manusia, tentu Allah memiliki berbagai tujuan atas penciptaannya.

Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, namun memiliki tujuan ilahi yang sangat mulia.

Sesuai yang tertulis di dalam kitab suci, sebelum dunia dijadikan, di dalam kasih Allah menghendaki supaya pada tingkat yang tertentu manusia memiliki standar moral (akhlak) sorgawi, berkodrat ilahi, kudus tak bercacat, tiada beraib dan tiada bernoda, tidak bercela; suatu pribadi yang baik, yang berkenan dan yang sempurna untuk beribadah dan memuliakan Allah.

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4).

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat" (I Tesalonika 5:23).

Allah menetapkan suatu standar kesempurnaan untuk manusia
Allah menghendaki kesempurnaan manusia kelak bukan seperti malaikat maupun seperti makhluk ciptaan lain, namun kesempurnaan yang Allah kehendaki adalah serupa dengan Sang Khalik, dan menjadi makhluk yang paling sempurna di antara ciptaan Allah.

Kesempurnaan Allah tawarkan kepada seluruh umat manusia, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa agar meraihnya di dalam Injil Kerajaan Allah.

Agar manusia dapat mencapai kesempurnaan, dalam berbagai kesempatan Allah mengingatkan dan menuntun umat manusia agar kembali kepada tujuan awal atas penciptaannya, yaitu agar manusia menyempurnakan diri untuk menyembah, beribadah, dan memuliakan Allah.

Inilah salah satu tujuan penciptaan manusia, yaitu kesempurnaan seperti Bapa.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48).

[Sempurna sama seperti Bapa tidak memiliki arti bahwa manusia sama dengan Allah dan atau menjadi Tuhan, namun sempurna bagi manusia dalam batas sempurna sebagai ciptaan Allah yang memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi, memiliki sebagian sifat-sifat Allah, tatkala manusia hidup sesuai dengan seluruh kehendak-Nya.

Allah adalah TUHAN Yang Maha Esa, satu-satunya, tidak ada yang lain, yang berkenan memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa, sumber dari segala sesuatu, awal dan akhir dari segala sesuatu, tujuan dari segala sesuatu, di atas segala sesuatu, dan segala sesuatu ada di dalam Dia.]

Bagaimanakah cara manusia dapat menggenapkan firman-Nya untuk sempurna seperti Bapa (Allah)?

Melalui tulisan ini akan disajikan dengan teratur, dari awal hingga akhir, supaya setiap orang dapat mengetahui, bahwa tujuan dari penciptaan manusia di dunia adalah untuk memiliki standar moral (akhlak) sorgawi, berkodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela; suatu pribadi yang baik, yang berkenan dan yang sempurna, baik dalam hati, pikiran, perkataan dan karya, bagi kebahagiaan diri dan sesama, di dunia maupun untuk persiapan hidup yang kekal bagi kemuliaan Allah. Amin.

Manusia

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dinamis dan berakal budi, terdiri atas tubuh alamiah dan tubuh rohaniah. Sebagai makhluk dinamis, manusia memiliki kehendak, pertimbangan, pikiran, perasaan dan tindakan.

Tujuan penciptaan manusia sebelum dunia dijadikan

Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, melainkan dibentuk dengan tujuan mulia, yaitu agar dapat menjadi pribadi yang sempurna seperti diri-Nya. Manusia dipersiapkan agar kelak dapat menjadi makhluk yang sempurna di antara ciptaan-Nya.

Bahkan, ketentuan itu telah Allah tetapkan sebelum dunia dijadikan, jauh sebelum Bumi ada, agar manusia kudus dan tak bercacat (sempurna) di hadapan-Nya.

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4).

Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia. Allah Yang Maha Sempurna menghendaki agar suatu saat makhluk manusia pada tingkat tertentu mampu mencapai kesempurnaan ilahi.

Kesempurnaan Allah tawarkan kepada seluruh umat manusia, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa.

Allah menetapkan suatu standar kesempurnaan bagi manusia, kesempurnaan itu bukan seperti malaikat, maupun sempurna seperti makhluk ciptaan lain, namun kesempurnaan yang Allah kehendaki adalah serupa dengan Sang Khalik. Tentu yang dimaksud kesempurnaan manusia dalam batas sempurna sebagai ciptaan, dan tidak sama dengan Allah.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48).

"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yohanes 17:23).

"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat" (Mazmur 8:4-10).

"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kejadian 1:26).

"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (I Timotius 6:11).

Sempurna seperti Allah berarti suatu saat manusia akan berkodrat ilahi, yaitu memiliki sebagian kemuliaan Allah, yang ditandai dengan kudus, tak bercacat, tak bercela, tak bernoda, tiada beraib, yang memiliki perasaan, pertimbangan, kehendak, pikiran, kasih, karya, dan berkeadaan seperti Allah.

Tubuh alamiah dan tubuh rohaniah

Dalam kodratnya sebagai ciptaan Allah, manusia terdiri dari dua unsur utama, yaitu tubuh alamiah dan tubuh rohaniah.

"Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah" (I Korintus 15:44-48).

Tubuh alamiah

Tubuh alamiah terdiri atas dua unsur, yaitu tubuh daging dan jiwa, bersifat jasmani, tidak kekal. Khusus untuk Nabi Adam, tubuh alamiah berasal dari debu tanah Bumi, dan Hawa dari rusuk Adam. Sementara bagi keturunan Adam dan Hawa, tubuh alamiah diciptakan dari hasil persetubuhan laki-laki dan perempuan. Tatkala sel sperma dan sel telur bertemu, maka akan terjadi pembuahan dan akan menjadi calon anak manusia. Penciptaan tubuh alamiah manusia berlangsung saat dunia telah dijadikan.

"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kejadian 2:7).

"Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga" (I Korintus 15:47).

"Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: 'Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.' Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu" (Kejadian 2:21-25).

"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya" (Mazmur 139:13-16).

Tubuh rohaniah

Tubuh rohaniah terdiri atas roh yang berasal dari Allah, bersifat kekal.

"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup (roh) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kejadian 2:7).

Keturunan Allah
Dan suatu hal yang sangat ilahiah adalah bahwa roh manusia merupakan keturunan Allah, berasal dan bersumber dari Allah, yang "dilahirkan" oleh Roh Allah (Yohanes 3:6).

"Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia" (Kisah Para Rasul 17:28-29).

[Keturunan Allah tidak memiliki arti bahwa Allah beranak atau memiliki keturunan seperti manusia, hal tersebut menunjukan bahwa Allah adalah hakekat sumber dari segala sesuatu yang ada, baik di Bumi maupun di sorga, seperti tertulis:

"Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup" (I Korintus 8:6).

"Sebab Ia (Yesus Kristus) yang menguduskan dan mereka (umat manusia) yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara," (Ibrani 2:11).]

Berasal dari sorga
Tubuh rohaniah manusia berasal dari tempat yang tinggi, yaitu sorga .

"Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga" (I Korintus 15:47).

Diciptakan sebelum dunia dijadikan
Tubuh rohaniah manusia diciptakan atau dilahirkan jauh hari sebelum langit dan Bumi diciptakan, sebelum bintang-bintang terbentuk dan galaksi-galaksi menghiasi jagat raya, roh manusia telah ada.

"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4).

Tentu yang dimaksud dengan “kita” adalah tubuh rohaniah (roh) dan bukan tubuh alamiah (tubuh daging dan jiwa), sebab sebelum dunia dijadikan, tubuh alamiah belum ada. Jika roh telah dipilih sebelum dunia dijadikan, berarti roh diciptakan sebelum dunia ada.

Seperti halnya hikmat, Allah ciptakan sebelum Bumi ada, demikian juga roh manusia diciptakan pada era waktu pra dunia.

"TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.
Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.
Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air.
" (Amsal 8:22-24).

Kesatuan tubuh alamiah dan tubuh rohaniah

Kesatuan antara tubuh alamiah (tubuh daging dan jiwa) dan tubuh rohaniah (roh) inilah yang disebut sebagai manusia.

"Demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kejadian 2:7).

"Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi" (Mazmur 104:30).

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita" (I Tesalonika 5:23).

Tujuan manusia di dunia

Sesuai rencana Allah sebelum dunia dijadikan, yaitu agar manusia menjadi makhluk yang sempurna, sesungguhnya keberadaan seluruh manusia yang dilahirkan ke dunia untuk merealisasikan rencana Allah atas dirinya agar menjadi sempurna.

Meskipun setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, pada dasarnya seluruh umat manusia yang dilahirkan di dunia memiliki tujuan yang sama, yaitu berusaha meningkatkan mutu dirinya dengan jalan menggenapkan seluruh kehendak Allah agar memiliki standar moral sorgawi, berkodrat ilahi, berakhlak luhur dan mulia, hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya, untuk meraih cita-cita rohnya agar sempurna seperti yang difirmankan Tuhan:

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48).

Bagaikan orang yang hendak mendaki puncak gunung yang tinggi, setiap orang menempuh dengan caranya sendiri, namun semua orang memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai puncak gunung. Demikian juga dengan tiap-tiap orang yang dilahirkan di dunia, yang terdiri dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa yang berbeda, manusia memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai kesempurnaan ilahi.

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus" (Kolose 1:28).

 Kesempurnaan ilahi menjadi yang utama bagi tiap orang di dunia.

Manusia jatuh dalam dosa

Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama yang datang ke dunia. Kemudian Allah mengambil rusuk Adam dan membentuknya menjadi seorang perempuan yang kemudian disebut sebagai Hawa, dan menjadi isteri Adam. Mereka ditempatkan di sebuah taman di Eden.

Adam diberikan tugas oleh Allah untuk memelihara taman di Eden. Semua buah di taman boleh dimakan kecuali buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Jika Adam dan Hawa memakannya, mereka akan mati secara jasmani dan rohani.

Adam taat kepada perintah Allah dan melakukan tugasnya memelihara taman dan tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Iblis dan keinginan manusia

Sampai akhirnya, sejak Iblis menggoda dan menawarkan kepada Hawa untuk memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, mereka memilih memakannya dan tidak taat kepada Allah dan akhirnya jatuh ke dalam dosa.

Ada dua hal mendasar yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Pertama dari Iblis yang menggoda, dan kedua dari keinginan manusia. Perpaduan dari godaan Iblis dan keinginan manusia di luar kehendak Tuhan, akhirnya melahirkan dosa.

Kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan perubahan arah hidup, hubungan dengan Allah mulai renggang dan bahkan terputus, terkena hukum dosa dan hukum maut, bayang-bayang neraka dan sorga yang belum jelas, serta kecenderungan berbuat jahat semakin besar, dan kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah mulai tidak murni, yang akhirnya dosa dapat menghambat proses kesempurnaan, dan bahkan tujuan mencapai kesempurnaan dapat mengalami kegagalan.

Secara umum, ada dua jenis dosa yang dilakukan manusia sejak jatuh ke dalam dosa.

1. Dosa atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah

Allah sebagai Sang pembuat hukum, adalah Allah yang Mahaagung, yang harus ditaati, disembah, dan dimuliakan oleh semua makhluk. Tatkala manusia tidak taat dan jatuh dalam dosa, sesungguhnya manusia telah melanggar kedaulatan Allah. Dalam hal ini manusia tidak lagi menghormati Allah sebagai Sang pembuat hukum yang berkuasa atas dirinya.

Sebagai ciptaan, seharusnya manusia tunduk dan hormat kepada Allah dengan seluruh keberadaannya, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, namun sebaliknya manusia justru tidak taat, dan berbuat dosa.

"Ya TUHAN, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu" (Yeremia 14:20).

Tatkala seseorang tidak menghormati hadirat Allah dengan tidak memperhatikan segala firman dan kehendak-Nya, itulah pelanggaran terhadap kedaulatan Allah.

"Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!" Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing" (Kisah Para Rasul 12:21-23).

2. Dosa atas pelanggaran terhadap hukum Allah

Demikan juga saat tidak taat kepada hukum Allah, manusia telah melanggar hukum, melanggar peraturan, dan segala ketentuan-Nya.

"Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (I Yohanes 3:4).

Tatkala seseorang berzinah, mencuri, berdusta, bersaksi palsu, riba, membunuh, tidak hormat kepada orang tua, menyembah berhala, musyrik, syrik, menyekutukan Allah, dan melakukan segala perbuatan yang dilarang hukum Allah, itulah pelanggaran terhadap hukum Allah.

Oleh sebab itu, saat manusia jatuh ke dalam dosa, ada dua hal mendasar yang dilanggar, yaitu pelanggaran terhadap kedaulatan Allah dan pelanggaran terhadap hukum Allah.

Pelanggaran terhadap kedaulatan Allah terkait dengan penghormatan terhadap pribadi Allah yang adalah pencipta segala sesuatu, dan pembuat hukum yang harus disembah dan dimuliakan.

Pelanggaran terhadap hukum Allah terkait dengan ketetapan, ketentuan, tatanan, peraturan ilahi.

Dosa akan membawa manusia ke dalam penghakiman, penghukuman maupun berbagai akibat yang dapat menimpanya.

Akibat dosa

Dosa mengakibatkan perubahan keadaan dan arah hidup manusia, dari yang baik menjadi tidak baik, dari taat menjadi tidak taat, tumbuhnya tabiat dosa dalam diri, terhalangnya perlindungan dan berkat Allah, terputusnya hubungan dengan Allah, hingga hukuman akibat dosa (Yesaya 59:1-19).

Terpisah dengan Allah

Hubungan pribadi manusia dengan Allah merupakan hal yang terutama dan yang pertama. Tidak ada hal yang lebih utama dari hubungan dengan Allah. Namun, tatkala jatuh dalam dosa dan dalam kejahatan, hubungan manusia dengan Allah mulai renggang, dan bahkan terputus.

"Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu" (Yesaya 59:2).

Kehilangan kemuliaan Allah

Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kemuliaan yang telah Allah berikan, termasuk kesempatan untuk meraih kesempurnaan ilahi menjadi pudar.

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

Pertolongan Allah terhalang 

Sebagai Allah Yang Maha Kasih, Ia selalu berkehendak untuk menolong manusia, tangan-Nya selalu terulur setiap saat. Namun oleh karena dosa dan kejahatan, seringkali manusia justru tidak mencari pertolongan-Nya, justru sebaliknya, menempuh jalannya sendiri, sehingga tangan Tuhan seolah-olah tidak pernah sampai kepadanya.

"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu" (Yesaya 59:1-2).

Mendatangkan kutuk

Dosa akan mendatangkan berbagai kutuk, mulai dari sulit mencari rezeki dan usaha, tidak beruntung, tertimpa berbagai sakit penyakit, sampar, diserang hama, masalah rumah tangga, buah kandungan yang tertutup, ketidakamanan, tidak tenteram, hati yang gelisah, kuatir, jiwa yang merana, bahkan keberadaannya dapat punah dan binasa (Ulangan 28:15-68).

"Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau" (Ulangan 28:15).

Segala kutuk itu akan datang ke atasmu, memburu engkau dan mencapai engkau, sampai engkau punah, karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan tidak berpegang pada perintah dan ketetapan yang diperintahkan-Nya kepadamu" (Ulangan 28:45).

"Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut" (Mazmur 107:17-18).

"Mengapakah engkau berteriak karena penyakitmu, karena kepedihanmu sangat payah? Karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar" (Yeremia 30:15).

Menghalangi yang baik

Tuhan Yang Maha Baik selalu mengulurkan segala kebaikan bagi manusia. Namun, kesalahan dan dosa dapat menghambat uluran tangan-Nya.

"Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu" (Yeremia 5:25).

Melahirkan karakter buruk

Tabiat dosa dan kejahatan dapat mengakibatkan lahirnya karakter buruk. Manusia akan mencintai dirinya sendiri, tidak mempedulikan nilai-nilai luhur, etika, norma, agama (II Timotius 3:1-9).

"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya" (II Timotius 3:2-5).

Upah dosa ialah maut

Pertanggungjawaban akan dosa begitu berat, karena setiap orang berdosa akan mengalami maut, baik maut dalam arti kematian tubuh alamiah maupun tubuh rohaniah.

"Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 6:23).

Penghakiman dan hukuman

Dosa akan membawa seseorang ke dalam penghakiman di akhir zaman. Setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Penghakiman akan menentukan seseorang masuk ke dalam kehidupan kekal, sorga, atau kematian kekal, neraka. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

"Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan merekaberdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.

Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.

Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu" (Wahyu 20:11-15).

Begitu dahsyatnya akibat dosa dan kejahatan bagi manusia, baik selama di dunia maupun setelah kematian, yang mengakibatkan tujuan kelahirannya di dunia untuk memiliki moral sorgawi, hidup kudus tak bercacat dalam rangka meraih kesempurnaan ilahi untuk beribadah kepada Allah dapat mengalami hambatan, kegagalan, dan bahkan ada kemungkinan tidak dapat kembali ke sorga.
Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Dua macam pengampunan

Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan jalan keluar (solusi) bagi setiap orang yang percaya dan mengikuti hukum-Nya agar manusia dapat memperoleh pengampunan, baik dosa atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun dosa atas pelanggaran terhadap hukum Allah seperti perzinahan, pencurian, dusta, saksi palsu, riba, pembunuhan, tidak hormat kepada orang tua, menyembah berhala, musyrik, syrik, menyekutukan Allah, dan dari segala dosa dan kejahatan.

Pengampunan dosa dari Allah inilah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia dari segala bangsa, kaum, bahasa, agama, keyakinan untuk memperoleh pembebasan dari segala dosa dan hukuman, dari hukum dosa dan hukum maut, sehingga manusia dapat dikembalikan kepada tujuan penciptaan, yaitu untuk diproses menjadi sempurna agar dapat beribadah kepada Allah dalam kekudusan dan kebenaran dan dapat kembali ke sorga.

Pengampunan dosa disediakan oleh Allah untuk semua umat manusia tanpa kecuali, dari segala bangsa, kaum, bahasa, agama, keyakinan, karena semua orang telah jatuh dalam dosa dan membutuhkan pengampunan dosa.

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 5:12).

Dalam keadaan berdosa, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari akibat dosa dan kejahatan, maupun mengharapkan keselamatan dari orang lain, walaupun manusia sangat merindukan dan membutuhkan pengampunan dosa.

Namun, dalam kasih-Nya, Allah menyediakan dan menawarkan pengampunan atas dua jenis pelanggaran, yaitu pengampunan dosa atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah, dan pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah.

Manusia dapat memperoleh pengampunan dengan cara yang telah disediakan-Nya.

Adalah seorang pencuri yang mencuri barang berharga di rumah seorang imam. Pencuri tersebut menjual hasil curiannya dan dipergunakan untuk berfoya-foya. Dalam perjalanan waktu, pencuri tersebut akhirnya tertangkap oleh petugas.

Pencuri tadi menyadari kesalahannya dan menyesal. Dia datang kepada imam tersebut dan memohon pengampunan atas perbuatan yang salah, dan imam tersebut mengampuni dan akhirnya mereka berpelukan dan berdamai.

Pencuri itu pun datang kepada petugas dan melakukan hal yang sama, memohon pengampunan atas perbuatannya mencuri, namun petugas berkata:

"Maaf saudara, kami tidak dapat memberikan pengampunan, sebab siapa yang melakukan pencurian harus dihukun. Kami bertanggung jawab kepada hukum. Hukum harus dijalankan dengan benar dan adil. Saudara kedapatan mencuri dan akan dihakimi dan akhirnya dihukum sampai masa hukuman selesai."

Dalam hal ini, pencuri memperoleh kemurahan berupa pengampunan dari imam tersebut, namun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Pelanggarannya terhadap hukum tidak serta-merta dapat diampuni walaupun menyesal dan telah memohon pengampunan, namun ia tetap harus menjalani proses hukum.

Dalam kasih Allah dan keadilan hukum-Nya, Allah telah menyediakan jalan keluar dengan dua macam pengampunan bagi manusia dengan ketentuan-ketentuan yang menyertainya. Manusia akan memperoleh pengampunan dari pribadi Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah.

1. Pengampunan atas pelanggaran kedaulatan Allah

Dosa pelanggaran kepada kedaulatan pribadi Allah akan diampuni. Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni segala dosa manusia tatkala seruannya dipandang layak untuk memperoleh pengampunan.

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya" (Yesaya 55:6-7).

Dosa yang terkait dengan pribadi Allah dapat diselesaikan secara pribadi dengan Allah.

2. Pengampunan atas pelanggaran hukum Allah

Hukum Allah merupakan ketetapan-ketetapan Allah untuk mengelola, mengatur segala ciptaan-Nya, yang dijalankan dengan kebenaran dan keadilan dan kebijaksanaan. Hukum Allah berlaku untuk semua ciptaan, dijalankan di segala tempat, baik di dunia maupun di sorga.

"Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya" (Mazmur 119:160).

Pada saat tidak taat kepada hukum Allah, manusia telah melanggar hukum-Nya.

"Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (I Yohanes 3:4).

Setiap manusia yang melakukan pelanggaran hukum Allah akan mempertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat, yaitu pada saat penghakiman.

Dosa pelanggaran terhadap hukum Allah berkaitan dengan ketetapan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab, yang belum dapat dibebaskan dengan pengakuan dosa.

Sebab dosa yang terkait dengan pelanggaran terhadap hukum Allah hanya dapat diselesaikan sesuai dengan hukum Allah juga.

Dengan demikian kita dapati dua ketentuan ini tentang dosa: dosa yang terkait dengan pelanggaran terhadap kedaulatan Allah dapat diselesaikan dan diampuni secara pribadi oleh Allah, tetapi dosa yang terkait dengan pelanggaran terhadap hukum Allah hanya dapat diselesaikan sesuai dengan hukum Allah.

Seperti seorang pencuri yang memperoleh pengampunan dari pemilik barang yang dicurinya setelah ia memohon pengampun, tetapi ia harus tetap bertanggung jawab di hadapan hukum, dan menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam hal ini manusia dapat memohon dan memperoleh pengampunan dosa atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah, namun belum memperoleh pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah, sehingga manusia masih harus mempertanggungjawabkan dosa-dosanya di hadapan takhta pengadilan Allah.

Salah satu bukti bahwa pelanggaran terhadap hukum Allah belum memperoleh pengampunan adalah akan adanya penghakiman, dimana semua orang akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, baik maupun jahat.

"Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:11-12).

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah" (Roma 14:10).

Berhubung dosa terhadap pelanggaran hukum Allah belum memperoleh pengampunan pada saat masih hidup di Bumi, hal ini mengakibatkan kesalahan dan dosa manusia akan terbawa hingga kematian.

"Tetapi TUHAN semesta alam menyatakan diri dan berfirman kepadaku: "Sungguh, kesalahanmu ini tidak akan diampuni, sampai kamu mati," firman Tuhan, TUHAN semesta alam (Yesaya 22:14).

Tentu kesalahan, dosa dan kejahatan yang belum diampuni sampai ke dalam kematian menjadikan suatu kondisi yang sangat menakutkan dan mengerikan bagi siapapun manusia, sehingga setiap manusia sesungguhnya sangat membutuhkan pengampunan dosa sebelum kematiannya.

Dan manusia tidak memiliki jalan keluar dari dirinya sendiri untuk mengatasi akibat dosa pelanggaran terhadap hukum Allah, selain harus mempertanggungjawabkan pada saat penghakiman kelak.

Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dalam kasih, Allah telah menyediakan jalan keluar bagi manusia agar memperoleh pengampunan yang sempurna, baik pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah.

Pengampunan dosa inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia dari segala bangsa, kaum, bahasa, agama, keyakinan untuk memperoleh pembebasan dari segala dosa dan hukuman, dan dari hukum dosa dan hukum maut selama masih hidup di dunia.

Manusia dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan

Allah Yang Mahatahu, pada mula pertama, sebelum Bumi ada, saat dimana Allah hendak merencanakan untuk menciptakan makhluk manusia agar memiliki moral sorgawi, kudus dan tak bercacat, dan sempurna di hadapan-Nya, Allah mengetahui bahwa suatu saat manusia akan jatuh ke dalam dosa, walaupun Allah telah mencegah dan melindunginya dengan firman-Nya, namun manusia memilih tidak taat.

Untuk menolong manusia keluar dari dosa supaya dapat kembali meraih kesempurnaan ilahi, Allah telah menyediakan berbagai cara yang telah dipilih dan disediakan sebelum dunia dijadikan, dan dinyatakan pada zaman akhir.

"Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (I Petrus 1:20 ).

Allah mengirimkan berbagai bentuk pertolongan, mulai dari mengutus para malaikat dan para nabi, dan akhirnya Allah sendiri hadir ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa, agar dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan, yaitu kesempurnaan.

Keselamatan

Pada mula pertama, sebelum Bumi ada, saat dimana Allah hendak merencanakan untuk menciptakan makhluk manusia, sesungguhnya Allah mengetahui bahwa suatu saat manusia akan jatuh ke dalam dosa, tidak taat kepada-Nya.

Manusia akan menanggung akibat dosa yang begitu berat, yang tidak dapat diselesaikan oleh manusia sendiri, seperti halnya dengan pelanggaran terhadap hukum Allah yang tidak dapat dihapuskan begitu saja.

Untuk menolong manusia keluar dari dosa, Allah telah menyediakan jalan keluar yang telah disediakan dan dipilih sebelum dunia dijadikan, dan dinyatakan pada zaman akhir.

"Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (I Petrus 1:20 ).

"TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum Bumi ada" (Amsal 8:22-23).

Pertolongan yang Allah sediakan sebelum dunia dijadikan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia disebut keselamatan, yang telah diperkenalkan kepada segala bangsa.

"TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa" (Mazmur 98:2).

"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (I Timotius 2:4).

Keselamatan merupakan kasih karunia Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kejahatan dengan jalan menebus dari hukum dosa dan hukum maut agar manusia memperoleh penebusan dan pengampunan dari segala dosa, baik pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah; dengan demikian manusia dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan, untuk dibentuk menjadi ciptaan yang sempurna seperti Allah.

Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia, dan dengan jalan keselamatan manusia dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan.

"Karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu" (I Petrus 1:9-10).

Allah hadir ke dunia sebagai Penebus

Untuk menyelamatkan umat manusia, Allah tidak mengutus duta atau utusan, melainkan Allah sendiri yang hadir ke dunia untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa agar kembali menjadi milik-Nya.

"Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala" (Yesaya 63:9).

"Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya" (Yohanes 12:46-47).

"Di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa" (Kolose 1:14).

Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya" (Efesus 1:7).

"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut" (Roma 8:1-2).

"Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya" (Efesus 1:14).

Allah satu-satunya Juruselamat yang menyelamatkan dunia, dan tidak ada yang lain.

"Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah" (Yesaya 43:10-12).

"Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri —, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:11-12).

Dan keselamatan yang datang dari Tuhan inilah yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia di seluruh dunia, karena oleh-Nya manusia diselamatkan.

"Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!" (Yesaya 25:8-9).

Dengan jalan keselamatan, yaitu melalui penebusan oleh Yesus Kristus, segala dosa dan kejahatan manusia yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam, kini manusia yang percaya kepada penebusan-Nya dapat memperoleh pembebasan.

"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salibIa telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka (Kolose 2:13-15).

Penebusan di dalam keselamatan yang Allah anugerahkan mencakup dua hal mendasar yang saling terkait dan mengikat, yaitu Allah menebus segala dosa manusia, dan manusia bekewajiban untuk memuliakan Allah.

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (I Korintus 6:20).

Keselamatan disediakan oleh Allah bagi seluruh umat manusia dari segala bangsa, kaum, bahasa dan agama di seluruh dunia agar manusia memperoleh penebusan dan pengampunan dosa, sebab Allah menghendaki agar semua orang selamat.

"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (I Timotius 2:3-4).

Tanggapan manusia atas keselamatan

Secara hukum Allah, penebusan dosa berlaku untuk semua manusia, sebab semua orang membutuhkan pengampunan dosa, dan Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan. Dalam keselamatan, manusia dapat meraih pengampunan dosa.

Namun penebusan tidak serta merta seluruh dosa manusia diampuni. Penebusan akan berlaku tatkala manusia menyatakan menerima penebusan dan melakukan ketentuan-ketentuan yang diwajibkan dalam keselamatan yang harus dilakukan oleh setiap orang.

1. Bertobat
Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah berdosa yang layak menerima hukuman, merendahkan diri, dan datang memohon pengampunan kepada Allah Sang Juruselamat.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (I Yohanes 1:9).

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup" (Yohanes 5:24).

Untuk menuntun umat manusia agar dapat memasuki ke dalam pertobatan yang benar, yaitu pertobatan yang sesuai dengan kehendak-Nya, Allah mengutus para pelayan Tuhan, yaitu manusia yang terlebih dahulu bertobat dan yang bertumbuh dalam karakter ilahi, yang dipandang layak oleh Allah untuk membimbing, menuntun, dan melayani pendamaian dosa dengan kuasa yang menyertainya.

"Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya" (II Timotius 2:21-26).

2. Tidak berbuat dosa lagi
Setelah Allah mengampuni segala dosa dan menyucikan dari segala kejahatan, manusia harus menjaga diri agar tidak tercemar, dan tidak berbuat dosa lagi sepanjang hidupnya.

"Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yohanes 5:14).

"Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yohanes 8:11).

3. Menjaga kekudusan
Manusia yang telah diampuni dosanya oleh Allah harus mulai belajar taat kepada-Nya, menjadi kudus di dalam seluruh hidup.

"Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan" (Roma 6:19).

"Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Petrus 1:13-16).

4. Mengambil kodrat ilahi, berakhlak sorgawi
Manusia yang telah ditebus harus melanjutkan proses untuk meningkatkan kapasitas diri, mengambil kodrat ilahi, berakhlak, bermoral, berkarakter sorgawi.

"Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia" (II Petrus 1:3-4).

Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang luhur, semua yang agung, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, iman, pengharapan, rasa syukur, akal budi, berpikir positif, pengetahuan, hikmat, kebijaksanaan, kesucian, kesalehan, kemurnian hati, keikhlasan, kesabaran, ketabahan, kemurahan, kejujuran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, kerendahan hati, kesopanan, ketaatan, ketekunan, tahan uji, amanah, empati, rasa hormat, rasa menghargai, cinta kasih, penguasaan diri, pendamai, peramah, pengayom, penurut, peduli, penuh belas kasih, penyayang, pemaaf, tidak menyimpan kesalahan orang lain, penuh sukacita, pembawa damai sejahtera, hati yang menghamba, hati yang melayani, tunduk kepada hukum dan konstitusi, tertib, tegas, tanggung jawab, teladan, tak bercela, tak bernoda, tak beraib, dan menjadi terang yang menyala di dunia.

Hal-hal mulia tersebut yang harus dilakukan oleh setiap orang agar penebusan dosa dapat dinikmati, sehingga manusia memperoleh pengampunan dari segala dosa dan kejahatan.

Namun jika manusia merasa tidak memerlukan penebusan, merasa benar, merasa dapat melihat, merasa tidak buta, merasa tidak berdosa, merasa tidak memerlukan pertobatan, hal-hal tersebut dapat mengakibatkan penebusan dosa yang Allah sediakan belum diterimanya.

"Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang" (Yohanes 8:21).

"Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu" (Yohanes 9:41).

"Tetapi TUHAN semesta alam menyatakan diri dan berfirman kepadaku: "Sungguh, kesalahanmu ini tidak akan diampuni, sampai kamu mati," firman Tuhan, TUHAN semesta alam (Yesaya 22:14).

Oleh sebab itu agar penebusan dosa dapat diperoleh, manusia harus menanggapi dengan iman dan pertobatan, yang dilanjutkan dengan ketaatan, menjaga kekudusan, dan terus membangun karakter sorgawi.

Dengan keselamatan manusia memiliki kesempatan untuk memperoleh pengampunan yang sempurna, yaitu pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah.

Kewajiban manusia atas keselamatan

Tatkala Allah telah menebus dan mengampuni segala dosa dan kejahatan, manusia memiliki kewajiban atau tanggung jawab atas keselamatan yang diterimanya.

Kewajiban manusia yang telah memperoleh keselamatan adalah memuliakan Allah dengan tubuhnya. Jika sebelum diampuni mempergunakan tubuhnya untuk hidup dalam berbagai hawa nafsu dan berbuat dosa, kini manusia baru harus mempergunakan tubuhnya bagi kemuliaan Allah.

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (I Korintus 6:20).

"Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan" (Roma 6:19).

Itulah pengampunan yang sempurna yang disediakan oleh Allah di dalam Injil Kerajaan Allah dengan segala ketentuannya.

Tujuan keselamatan

Sesungguhnya, keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia memiliki tujuan yang mendasar. Manusia bukan sekedar diselamatkan dari hukum dosa dan hukum maut serta dibebaskan dari hukuman kekal, namun Allah menghendaki agar manusia melanjutkan pekerjaan baiknya dalam merealisasikan kesempurnaan yang telah Allah tetapkan sebelum dunia dijadikan.

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Efesus 2:8-10).

Keselamatan bukanlah puncak dari iman, namun awal dari manusia baru untuk melanjutkan proses kesempurnaan.

Transisi menuju kesempurnaan

Meskipun telah ditebus, tentu tidak mudah bagi manusia untuk dikembalikan kepada rancangan Allah untuk diproses menjadi makhluk yang sempurna, walaupun Allah telah menyediakan berbagai pertolongan ilahi.

Manusia memerlukan kesadaran ilahi yang tinggi serta kesungguhan yang besar dan memadai agar dapat dikembalikan kepada proses kesempurnaan seperti yang telah ditetapkan oleh Allah bagi manusia.

"Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung" (II Petrus 1:10).

Namun, bagi manusia yang telah matang dan siap diproses menjadi sempurna seumpama seorang yang memutuskan untuk mendaki gunung yang tinggi. Ia rela meninggalkan segala kenyamanan dan memantapkan diri dan siap menempuh perjalanan yang berat dengan segala perbekalan.

Manusia yang telah matang dan siap untuk sempurna akan meninggalkan keduniawian dan segala kenikmatan dosa, dan siap menempuh perjalanan yang berat hingga mencapai kesempurnaan di dalam Kristus.

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibrani 12:2).

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus" (Kolose 1:28).

Melalui jalan keselamatan, perintah untuk menjadi sempurna bukan suatu hal yang mustahil lagi, karena Allah menganugerahkan berbagai pertolongan sorgawi untuk meraihnya.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48).

Elemen kesempurnaan

Tatkala Allah menghendaki agar manusia menjadi sempurna seperti diri-Nya, tentu Allah mengharapkan agar manusia memiliki sebagian dari kesempurnaan-Nya, dari mulai kekudusan, tak bercacat, tak beraib, tak bernoda, penuh kasih dan berkeadaan seperti Allah.

Tentu yang dimaksud kesempurnaan manusia seperti Bapa (Allah) dalam batas sempurna sebagai ciptaan, dan tidak akan pernah sama dengan Allah.

1. Kudus

Salah satu elemen kesempurnaan adalah kekudusan. Manusia sempurna adalah orang yang telah mati bagi dosa, tidak ada lagi kodrat dosa, tidak ada keinginan dan hasrat dosa, tiada terkandung dosa dalam hati dan pikiran, tidak berdosa dalam perkataan dan perbuatan. Dalam hal ini manusia mencapai tahap tidak dapat berbuat dosa lagi.

"Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus" (Roma 6:11).

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9).

Dalam seluruh keberadaannya adalah kudus, suci, tak tercemar seperti Allah.

"Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Petrus 1:15-16).

2. Tak bercacat

Seluruh keberadaan tubuh, jiwa dan roh sempurna dengan tak bercacat di hadapan Allah. Tiada cela dan noda dalam seluruh keberadaannya, baik dalam hati, pikiran, pertimbangan, perkataan dan perbuatan.

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita" (I Tesalonika 5:23).

3. Berkeadaan seperti Allah

Manusia memasuki dalam bersuasana dan berkodrat ilahi, yaitu manusia ciptaan Allah yang telah dibentuk dan yang dijadikan dan yang telah menjadi sempurna, yang kudus, tak bercacat, tak bercela, tak bernoda, tiada beraib, berkodrat ilahi, yang memiliki perasaan, pertimbangan, kehendak, pikiran, kasih, karya, dan berkeadaan seperti Allah, sehingga layak diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

"Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia" II Petrus 1:4).

"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (I Timotius 6:11).

"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:vapakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat" (Mazmur 8:4-6).

"Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi" (I Korintus 15:47-49).

"Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (I Yohanes 3:2).

"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah" (Yohanes 1:12-13).

Di dalam Injil Kerajaan Allah, manusia menjadi satu ruang ilahi dengan Allah, karena Allah berkenan tinggal di dalam dirinya dan berkarya bersama manusia.

"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia" ((Yohanes 14:23).

"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yohanes 17:23).

"Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal" (I Yohanes 5:20).

Kesempurnaan bagi kemuliaan Allah

Puncak dari segala penciptaan atas keberadaan dan kesempurnaan manusia adalah untuk menjadi kawan sekerja Allah, dan berkarya bersama-Nya, bagi kemuliaan Allah, dan manusia akan memperoleh kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera.

"Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah" (I Korintus 3:9).

"Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" (Yesaya 43:7).

"Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin" (Yudas 1:24-25).

Kesadaran dan implementasi

Inilah salah satu tujuan utama manusia dilahirkan di dunia, yaitu untuk memproses diri menjadi makhluk yang memiliki standar moral (akhlak) sorgawi, berkodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela; suatu pribadi yang baik, yang berkenan dan yang sempurna bagi kemuliaan Allah.

Jika manusia menyadari bahwa selama ini dirinya belum menemukan tujuan atas penciptaannya, dan belum mulai memproses dirinya menjadi pribadi yang sempurna, kini dapat mengembalikan dirinya kepada tujuan atas penciptaannya, dan mulai melangkah memproses dirinya menuju kesempurnaan bagi kemuliaan Allah

Injil Kerajaan Allah menyediakan berbagai fasilitas sorgawi untuk mewujudkan agar manusia menjadi makhluk yang bermartabat sorgawi, mengambil kodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela, yang sempurna, menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, untuk menyembah, beribadah dan berkarya bagi kemuliaan Allah, dengan demikian manusia dapat menggenapkan firman Tuhan yang berbunyi:

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48).

"Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" (Yesaya 43:7)..

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.
(Injil Kerajaan Allah)

Ayat-ayat rujukan yang dipergunakan di dalam situs Injil Kerajaan Allah berasal dari Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974 dan Lembaga Biblika Indonesia.