Bertobatlah, Sebab Kerajaan Allah Sudah Dekat! Menggenapkan Tujuh Elemen Pertobatan

Bertobatlah, Sebab Kerajaan Allah Sudah Dekat! Menggenapkan Tujuh Elemen Pertobatan

Pada saat Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya, salah satu pemberitaan yang disampaikan adalah seruan untuk bertobat, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.
 
"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17).

Dari berbagai hal tentang pengajaran-Nya, pertobatan menjadi salah satu hal mendasar dan utama pada awal pemberitaan Injil Kerajaan Allah.

Jika pertobatan menjadi salah satu hal yang mendasar dan utama, mungkin akan timbul beberapa pertanyaan yang mendasar.
  1. Mengapa pada awal pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menyerukan tentang pertobatan?
  2. Mengapa Tuhan Yesus tidak menyerukan tentang mengaku dosa?
  3. Apa perbedaan antara bertobat dan mengaku dosa?
  4. Apakah kaitannya antara kedua hal tersebut?
Tentu setiap firman Allah memiliki dasar, maksud dan tujuan. Oleh karena itu, manusia diberi kesempatan untuk belajar dan mengerti dengan hatinya agar dapat memahami pengertian antara bertobat dan mengaku dosa, dengan demikian dapat bertobat dengan benar sesuai dengan kehendak Allah.
 
Melalui tulisan ini akan disajikan dengan teratur, dari awal hingga akhir, supaya setiap orang dapat mengetahui tentang pertobatan, dan dapat bertumbuh dalam standar moral (akhlak) sorgawi, berkodrat ilahi, kudus, tak bercacat, tak bernoda, tak bercela; suatu pribadi yang baik, yang berkenan dan yang sempurna, baik dalam hati, pikiran, perkataan dan karya ilahi, bagi kebahagiaan diri dan sesama, di dunia maupun untuk persiapan hidup yang kekal bagi kemuliaan Allah.


Mengaku dosa dan bertobat

Mengaku dosa dan bertobat sesungguhnya merupakan dua hal yang berbeda, walaupun dalam beberapa hal keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang telah mengaku dosa belum tentu telah bertobat, sementara seseorang yang telah bertobat tentu telah mengaku dosa.

Mengaku dosa

Mengaku dosa merupakan kesadaran manusia akan segala dosanya, dan kemudian memohon pengampunan dengan jalan mengakui segala dosa dan kejahatannya di hadapan Allah.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (I Yohanes 1:9).

Namun, sebagai manusia yang masih memiliki tabiat dosa, walaupun Allah telah mengampuni dari segala dosa dan kejahatan, manusia masih memiliki kecenderungan kembali berbuat dosa dan kembali jatuh dalam dosa, kemudian memohon pengampunan kembali, dan kemudian berbuat dosa lagi dan memohon pengampunan lagi, dan perbuatan ini terulang-ulang dan berjalan terus selama hidup hingga kematian.
 
Pada tahap ini, manusia mengaku dosa masih dalam batas karena tuntutan maupun oleh karena takut akan hukuman dan penderitaan, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

Bertobat

Bertobat merupakan kesadaran manusia akan segala dosanya, dan kemudian berbalik kepada Allah, dan memohon pengampunan dengan jalan mengakui segala dosa dan kejahatannya, sehingga Allah berkenan mengampuni dari segala dosa dan kejahatan, dan setelah memperoleh pengampunan tidak berbuat dosa lagi, dan bertumbuh dalam karakter sorgawi (kodrat ilahi), serta menghasilkan berbagai buah atas pertobatannya hingga kematian.

Pada tahap ini, pertobatan manusia didasari oleh kesadaran akan kerinduannya untuk dikembalikan kepada tujuan awal penciptaannya, yaitu menjadi kudus dan tak bercacat dan sempurna di hadapan Allah.
 
"Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus" (Kisah Para Rasul 3:19-28).

"Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan" (Kisah Para Rasul 26:17-18).

Seperti pada awal pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menyerukan tentang pertobatan, dan tidak berhenti sebatas mengaku dosa. Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar manusia tidak berhenti sebatas mengaku dosa, namun lebih jauh lagi dapat mencapai tahap bertobat sebagai salah satu syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
 
Pentingnya pertobatan beberapa kali kembali Tuhan Yesus sampaikan dalam berbagai pengajaran-Nya. Bahkan, kepada para murid yang menyertainya, walau mereka [mungkin] adalah rasul, namun masih tetap memerlukan pertobatan untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
 
Suatu hal yang sungguh mengejutkan jika para rasul pun masih memerlukan pertobatan. Namun, pertobatan yang Tuhan kehendaki tentu agar sesuai dengan kebenaran.
 
Jika bagi para rasul yang dipandang layak melayani, dan yang selalu bersama Tuhan Yesus ternyata masih memerlukan pertobatan, bagaimana dengan jemaat?
 
"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: 'Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?' Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'" (Matius 18:1-3).

Tentu, pertobatan yang benar adalah pertobatan yang sesuai dengan kehendak Allah dengan jalan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Untuk mencapai pertobatan yang sesuai kehendak Allah, dibutuhkan parameter agar dapat terukur dengan baik dan benar, sehingga menghasilkan pertobatan yang sempurna.

Dalam proses pertobatan, selain usaha dari dalam diri sendiri, Allah juga mengutus para pelayan Tuhan, yaitu manusia yang terlebih dahulu bertobat dan yang bertumbuh dalam karakter ilahi, yang dipandang layak oleh Allah untuk membimbing, menuntun, dan melayani pendamaian dosa dengan kuasa yang menyertainya.

"Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya" (II Timotius 2:24-26).

Tujuh elemen pertobatan

Pertobatan memerlukan proses yang harus ditempuh tahap demi tahap untuk mencapai pertobatan yang benar dan sesuai dengan kehendak Allah.

1. Kesadaran

Kesadaran ilahi bagi manusia bahwa dirinya adalah makhluk berdosa akan menjadi dasar dalam menempuh perjalanan pertobatannya. Sebab, tanpa kesadaran bahwa dirinya berdosa, manusia tidak akan dapat memulai pertobatannya. Dengan kesadaran, proses pertobatan dapat ditempuh dengan keikhlasan dan kemurnian.
 
"Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus" (Kisah Para Rasul 3:19-28).

2. Mengaku dosa

Mengaku dosa merupakan kesadaran manusia akan segala dosanya, dan kemudian memohon pengampunan dengan jalan mengakui segala dosa dan kejahatannya di hadapan Allah.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (I Yohanes 1:9).

3. Tidak berbuat dosa

Manusia yang sungguh-sungguh bertobat, setelah memperoleh pengampunan dari segala dosa dan telah disucikan dari segala kejahatan akan berusaha menjaga diri untuk tidak berbuat dosa lagi.
 
Dalam tahap ini, walau tabiat dosa masih ada di dalam dirinya, namun mampu mengendalikan diri untuk taat dan tidak berbuat dosa lagi hingga akhir.

"Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk" (Yohanes 4:14).

"Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:11).

4. Mati terhadap dosa dan tidak dapat berdosa lagi

Tatkala manusia telah bertobat dan terus-menerus mampu mengendalikan diri tidak berbuat dosa lagi, maka dalam tahap ini akan sampai pada kondisi mati terhadap dosa.

Manusia yang mati terhadap dosa adalah orang yang tidak ada lagi tabiat dosa, tidak ada keinginan dan hasrat dosa, tiada terkandung dosa dalam hati dan pikiran, tidak berdosa dalam perkataan dan perbuatan, sehingga mencapai tahap mati terhadap dosa, seperti hati kanak-kanak yang tiada kejahatan di dalam dirinya, tiada keinginan untuk mencuri, berzinah, berdusta dan segala keinginan jahat lainnya.

"Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa" (Roma 6:6-7).
 
"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Galatia 5:24). 

"Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus" (Roma 6:11).

Manusia yang telah mati terhadap dosa akan membuat dirinya sungguh-sungguh terbebas dari dosa dan rohnya kembali mengambil bagian dalam kodrat ilahi, sehingga sudah tidak dapat berbuat dosa lagi karena dilahirkan dari Allah.

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9).

5. Menjaga kekudusan

Manusia yang telah diampuni dosanya oleh Allah harus mulai belajar taat kepada-Nya, menjadi kudus di dalam seluruh hidupnya.

"Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan" (Roma 6:19).

"Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Petrus 1:13-16).

6. Mengambil kodrat ilahi, berakhlak sorgawi

Manusia yang telah ditebus harus melanjutkan proses untuk meningkatkan kapasitas diri, mengambil kodrat ilahi, berakhlak, bermoral, berkarakter sorgawi.

"Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia" (II Petrus 1:3-4).

Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang luhur, semua yang agung, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, iman, pengharapan, rasa syukur, akal budi, berpikir positif, pengetahuan, hikmat, kebijaksanaan, kesucian, kesalehan, kemurnian hati, keikhlasan, kesabaran, ketabahan, kemurahan, kejujuran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, kerendahan hati, kesopanan, ketaatan, ketekunan, tahan uji, amanah, empati, rasa hormat, rasa menghargai, cinta kasih, penguasaan diri, pendamai, peramah, pengayom, penurut, peduli, penuh belas kasih, penyayang, pemaaf, tidak menyimpan kesalahan orang lain, penuh sukacita, pembawa damai sejahtera, hati yang menghamba, hati yang melayani, tunduk kepada hukum dan konstitusi, tertib, tegas, tanggung jawab, teladan, tak bercela, tak bernoda, tak beraib, dan menjadi terang yang menyala di dunia.

7. Menghasilkan buah-buah pertobatan berupa karya ilahi bagi Allah

Setiap orang yang telah bertobat akan menghasilkan buah akan pertobatannya. Seperti petani yang menanam padi dengan baik dan benar, mereka akan menghasilkan panen pada waktunya. Demikian juga pertobatan yang benar dan sesuai kehendak Allah, akan memberikan buah atas pertobatannya.
 
"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan" (Matius 3:8).
 
Ia akan dipandang layak oleh Allah untuk suatu pekerjaan ilahi yang mulia, sehingga dapat menghasilkan karya-karya ilahi sempurna bagi Allah.

"Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia" (II Timotius 2:21).

Dengan ketujuh elemen pertobatan, manusia dapat memiliki takaran yang terukur, sudah sejauh mana dalam menempuh dan menggenapi pertobatan yang sempurna, dan yang berkenan kepada Allah. Tentu, selain hal-hal itu semua, masih ada banyak elemen lain yang terkait dengan pertobatan.

Implementasi pertobatan

Jika manusia menyadari bahwa selama ini dirinya belum mencapai tahap bertobat, dan belum mulai memproses dirinya, kini dapat memulai pertobatannya dan mengembalikan dirinya kepada tujuan atas penciptaannya, dan mulai melangkah memproses dirinya menuju kesempurnaan bagi kemuliaan Allah.

Injil Kerajaan Allah menyediakan berbagai fasilitas penebusan dosa dan pengampunan dari segala dosa dan penyucian dari segala yang jahat, agar manusia dapat dikembalikan sesuai tujuan atas penciptaannya. Amin.
(Injil Kerajaan Allah)

Ayat-ayat rujukan yang dipergunakan di dalam situs Injil Kerajaan Allah berasal dari Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974 dan Lembaga Biblika Indonesia.