Menjadi Hambanya Hamba

Yesus Membasuh Kaki Para Rasul | Karya Meister des Hausbuches, 1475 | Sumber ttps://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Meister_des_Hausbuches_003.jpg
Yesus, sumber gambar Wikipedia.
Injil Kerajaan Allah merupakan tatanan sorgawi. Tatkala Injil Kerajaan Allah diajarkan kepada manusia, hal tersebut seumpama seorang ayah yang mengajarkan hukum kepada anaknya yang baru berumur satu tahun.

Sang anak mendengar dan mendengar, namun belum mengerti. Walau diulang beribu kali, sang anak hanya mendengar dan tetap belum menanggap juga, karena masih kanak-kanak. Sang ayah harus sabar menunggu hingga sang anak bertumbuh menjadi dewasa dan siap untuk diajarkan hukum kehidupan dan hidup didalamnya.

Dalam hal ini, mungkin kita telah banyak belajar dan melayani, namun kita juga menyadari bahwa output kualitas keimanan kita masih jauh dari harapan Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita masih kanak-kanak, yang belum mampu menelaah lebih jauh kebenaran Tuhan. Kita masih berpikir dan bertindak seperti kanak-kanak.

Salah satu pemikiran kanak-kanak yang mungkin harus dibenahi bersama adalah tentang status sebagai anak Allah yang telah melekat begitu kuat dalam diri kita. Dengan status tersebut, tanpa sadar terbentuk pemikiran bahwa kita beda dengan manusia yang lain, seakan-akan lebih tinggi dari yang lain, baik dalam status rohani, pengetahuan, kelayakan, kesucian maupun fasilitas. Kita merasa menjadi manusia pilihan dan istimewa di hadapan Allah.

Status anak-anak Allah merupakan anugerah yang harus disyukuri. Namun, pemahaman menjadi anak-anak Allah haruslah di tempatkan pada makna dan ruang yang tepat sesuai kebenaran. Jika pemahaman tentang anak Allah tidak sesuai dengan koridor, hal ini yang mungkin sedikit banyak akan menghambat pertumbuhan kita untuk menjadi manusia rohani yang dewasa dan matang.

Kita dapat belajar dan meneladani Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, ketika datang ke dunia Ia mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Filipi 2:5-7).

Jika Yesus saat di dunia mengosongkan diri dan menyebut diri-Nya adalah hamba, mengapa kita mengisi diri kita dengan berbagai-bagai kemuliaan dan menyebut diri anak Allah?

Bahkan saat di dunia, Yesus pernah berada di titik terrendah dan sangat hina, begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.

"Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia — begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi" (Yesaya 52:14).

Jika Yesus yang adalah Tuhan menyebut diri-Nya hamba,
pantaskah kita menyebut diri anak Allah?

Jika Yesus menyebut diri-Nya hamba,
selayaknya kita adalah hambanya hamba.

Dan jika Yesus pernah berada di titik terrendah, pantaskah kita meninggikan diri? Bukankah seharusnya kita meneladani-Nya?

Mari kita menyadari dan menempatkan diri pada tempatnya, sebab kita hanya hambanya hamba dan bernaung di bawah telapak kaki-Nya!

Tidak ada status sama sekali!
Tidak ada kemuliaan sama sekali!
Tidak ada keistimewaan sama sekali!

Semua manusia sama di hadapan Allah,

"Sebab Allah tidak memandang bulu" (Roma 2:11).
"Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya" (Kisah Para Rasul 10:34-35).


Mungkin, sebelum kita menyadari dan berani memutuskan untuk menjadi hambanya hamba, sebelum meruntuhkan "bait Allah kesombongan", masih sulit bagi kita untuk diproses bertumbuh menjadi manusia Allah yang berkodrat ilahi.

Oleh karena itu,

Mari mengosongkan diri dari segala status!
Mari mengosongkan diri dari segala kemuliaan!
Mari mengosongkan diri dari segala keduniawian!
Mari merendahkan diri di hadapan Allah dan Sorga!

Dan,

Mari menjadi hamba!
Dan tidak cukup sebagai hamba!
Namun jauh lebih rendah dari hamba!
Kita harus menjadi hambanya hamba!

Mari dengan rela hati merendahkan diri dan meletakkan diri sebagai hambanya hamba, sebab jika Yesus Kristus mengambil rupa (status) hamba, kita harus jauh di bawah Yesus, di bawahnya hamba, yaitu menjadi hambanya hamba!

Kita bukan siapa-siapa, dan kita bukan apa-apa.

"Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Lukas 17:10).

Mari belajar kepada Yesus dan menghayati yang dimaksud hidup di dalam Dia berarti manusia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

"Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam DiaBarangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (1 Yohanes 2:5-6).

Jika saat Yesus di dunia sebagai hamba, kita pun harus sebagai hamba juga, dan bahkan harus lebih rendah lagi, yaitu hambanya hamba yang siap bekerja bagi kemuliaan Allah.

Sebab pintu Injil Kerajaan Allah bagaikan lorong gua yang rendah, untuk memasukinya kita harus merunduk. Jika tetap berdiri, kita tidak akan dapat memasuki gua. Demikian juga untuk masuk ke dalam Injil Kerajaan Allah, kita harus merunduk, merendahkan diri di hadapan-Nya. Sebab rendah hati merupakan salah satu fondasi utama untuk masuk ke dalam Injil Kerajaan Allah.

"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yohanes 3:30).

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Hanya bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.
(Injil Kerajaan Allah)

Ayat-ayat rujukan yang dipergunakan di dalam situs Injil Kerajaan Allah berasal dari Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974 dan Lembaga Biblika Indonesia.