Kristus Prototipe Kesempurnaan

Kristus Prototipe Kesempurnaan
Pada mula saat Allah hendak menciptakan makhluk manusia, Allah memiliki berbagai tujuan atas penciptaannya. Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, namun memiliki tujuan ilahi yang sangat mulia.

Allah menghendaki agar kelak manusia memiliki standar moral (akhlak) sorgawi, yaitu memiliki sebagian sifat-sifat keilahian, mengambil kodrat ilahi, mempunyai pertimbangan, pikiran, tindakan, perbuatan, dan bahkan karya yang mencerminkan tata kehidupan sorgawi.

"Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia"  (II Petrus 1:4).

Dan dalam berbagai kesempatan, Tuhan mengingatkan umat manusia agar kembali kepada awal tujuan atas penciptaannya, yaitu agar menggapai kesempurnaan ilahi.

Kristus prototipe kesempurnaan

Untuk menunjukkan bahwa kesempurnaan ilahi dapat diraih oleh manusia, Allah memberikan contoh melalui Yesus Kristus. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, hingga mencapai kesempurnaan, dan menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek" (Ibrani 5:8-10).

Dengan contoh kesempurnaan yang dapat dilihat dalam Yesus Kristus, manusia dapat mengikuti teladan-Nya untuk meraih kesempurnaan dengan jalan mengikuti cara hidup-Nya.

Mencapai kesempurnaan dalam Kristus 

Selain prototipe kesempurnaan, Allah juga telah menyediakan cara agar manusia dapat meraih kesempurnaan. Yesus Kristus telah menunjukkan bagaimana cara mencapai kesempurnaan tahap demi tahap. Kini manusia dapat mengikuti jalan yang telah ditempuh-Nya untuk meraih kesempurnaan ilahi.

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Matius Matius  19:21).

Menjadi pengikut Kristus berarti seseorang harus hidup di dalam-Nya, yaitu wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

"Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (I Yohanes 2:6).

Tentu yang dimaksud wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup bukan sama dalam hal bentuk, namun sama dalam hal mutu atau kualitas hidupnya, yaitu setiap langkahnya sesuai dengan seluruh kehendak Allah.

"Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15).

Tatkala seseorang menempuh dengan cara yang sama seperti yang telah Kristus tempuh, ia akan memperoleh hasil yang sama seperti Kristus.

1. Mati terhadap dosa

Kematian Kristus adalah kematian terhadap dosa, dimana seluruh kehidupan-Nya adalah kudus dan tidak berdosa yang dipersembahkan bagi Allah. Demikian juga bagi manusia yang menjadi pengikut-Nya, ia harus mati terhadap dosa dan kehidupannya bagi Allah.

"Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus" (Roma 6:10-11).

"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Galatia 5:24).

Pengikut Kristus adalah orang yang telah mati bagi dosa, tidak ada lagi kodrat dosa, tidak ada keinginan dan hasrat dosa, tiada terkandung dosa dalam hati dan pikiran, tidak berdosa dalam perkataan dan perbuatan. Dalam tahap ini manusia mencapai berkeadaan ilahi yang tidak dapat berbuat dosa lagi.

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9).

2. Memiliki kasih ilahi

Kasih kekal, kasih yang tidak berkesudahan kepada Allah dan kasih kepada seluruh ciptaan-Nya. Kasih kepada Allah ditunjukkan dengan menuruti segala firman-Nya.

"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia" (Yohanes 14:23).

Sementara kasih kepada sesama manusia ditunjukkan kepada semua orang, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, dan semua agama dengan kasih yang tulus dan murni.

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:44-48).

3. Melakukan pekerjan yang sama dengan Yesus

Setiap pengikut Kristus akan melakukan pekerjaan seperti yang Yesus lakukan.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa" (Yohanes 14:12).

4. Melakukan pekerjaan yang lebih besar dari Yesus

Bahkan, bagi pengikut Kristus selain melakukan pekerjaan yang telah Yesus kerjakan, manusia memiliki kesempatan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang Yesus telah kerjakan.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa" (Yohanes 14:12).

Tatkala manusia menempuh seperti yang Yesus kerjakan, maka kesempurnaan ilahi akan dapat diraihnya.

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus" (Kolose  1:28).

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibrani 12:2).
(Injil Kerajaan Allah)

Ayat-ayat rujukan yang dipergunakan di dalam situs Injil Kerajaan Allah berasal dari Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974 dan Lembaga Biblika Indonesia.