Kristus Prototipe Kesempurnaan

Kristus Prototipe Kesempurnaan
Pada mula saat Allah hendak menciptakan makhluk manusia, Allah memiliki berbagai tujuan atas penciptaannya. Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, namun memiliki tujuan ilahi yang sangat mulia.

Allah menghendaki agar kelak manusia memiliki standar moral (akhlak) sorgawi, yaitu memiliki sebagian sifat-sifat keilahian, mengambil kodrat ilahi, mempunyai pertimbangan, pikiran, tindakan, perbuatan, dan bahkan karya yang mencerminkan tata kehidupan sorgawi.

"Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia"  (II Petrus 1:4).

Dan dalam berbagai kesempatan, Tuhan mengingatkan umat manusia agar kembali kepada awal tujuan atas penciptaannya, yaitu agar menggapai kesempurnaan ilahi.


Kristus prototipe kesempurnaan

Yesus Kristus menunjukkan bahwa kesempurnaan ilahi dapat diraih oleh manusia dalam keadaan sebagai manusia, Ia belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, hingga mencapai kesempurnaan dan menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek" (Ibrani 5:8-10).

Dengan contoh kesempurnaan yang dapat dilihat dalam Yesus Kristus, manusia dapat mengikuti teladan-Nya untuk meraih kesempurnaan dengan jalan mengikuti cara hidup-Nya.

Selain prototipe kesempurnaan dalam Yesus Kristus, Allah juga telah menyediakan cara agar manusia dapat meraih kesempurnaan. Yesus Kristus telah menunjukkan bagaimana cara mencapai kesempurnaan tahap demi tahap. Kini manusia dapat mengikuti jalan yang telah ditempuh-Nya untuk meraih kesempurnaan ilahi.

Kesempurnaan dalam Kristus

Menjadi pengikut Kristus sesungguhnya tidak berhenti pada keselamatan. Keselamatan bukanlah puncak dari iman, namun titik awal kembali bagi manusia baru untuk melanjutkan proses kesempurnaan seperti Bapa dalam Kristus.
 
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48). 

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus" (Kolose 1:28).
 
"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibrani  12:2).

Untuk dapat mewujudkan kesempurnaan dalam Kristus, seseorang harus hidup di dalam Kristus, yaitu wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

"Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (I Yohanes 2:6).

Tentu yang dimaksud wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup bukan harus sama dalam hal bentuk, namun sama dalam hal mutu atau kualitas hidupnya, yaitu setiap langkahnya sesuai dengan seluruh kehendak Allah seperti yang telah Ia contohkan saat di dunia.

"Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15).

Tatkala seseorang menempuh dengan cara seperti yang telah Kristus tempuh, ia juga akan memperoleh hasil seperti Kristus. Dan untuk mewujudkan agar manusia dapat mencapai kesempurnaan dalam Kristus, seseorang harus memiliki karakter Kristus.

Manusia berkarakter Kristus

Setiap manusia yang hendak memiliki kesempurnaan seperti Bapa (Allah) dapat melihat teladan yang telah diberikan Kristus dari mulai kasih, kerendahan hati, kelemahlembutan, ketaatan, kekudusan, kesetiaan, ketegasan dan lain sebagainya.

Manusia dapat mengambil kodrat ilahi dengan jalan memiliki karakter yang dimiliki Kristus.

1. Mengosongkan diri

Yesus yang adalah Tuhan yang memiliki segala-galanya, baik yang di Bumi maupun di sorga, namun Ia mengosongkan diri dan meninggalkan segala kemuliaan-Nya.

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Filipi 2:5-7).

Demikan juga bagi manusia yang hendak mengikuti jejak-Nya, harus berani mengosongkan dirinya dari segala "manusia duniawinya" dengan jalan meninggalkan segala dosa dan kejahatan dan segala kemuliaan duniawi.

"Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya" (Kolose 3:8-9).

2. Menjadi hamba

Yesus yang adalah rupa Allah, Raja segala raja, yang empunya segala-galanya, baik yang di Bumi maupun di sorga, namun Ia mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, sebagai pelayan yang melayani.

Demikan juga bagi pengikut-Nya, harus berani mengosongkan dirinya dari status "anak Allah" maupun "umat pilihan", merendahkan diri dan mengambil rupa hamba, sebagai pelayan yang melayani seperti halnya Yesus sebagai manusia yang menghamba.

Sebab, jika Yesus saat di dunia mengosongkan diri dan menyebut diri-Nya adalah hamba, mengapa manusia yang adalah ciptaan-Nya justru mengisi diri dengan berbagai-bagai kemuliaan dan menyebut diri anak Allah?

Bahkan saat di dunia, Yesus pernah berada di titik terrendah dan sangat hina, begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.

"Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia — begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi" (Yesaya 52:14).

Jika Yesus yang adalah Tuhan menyebut diri-Nya hamba, layakkah manusia menyebut diri anak Allah?
Jika Yesus menyebut diri-Nya hamba, selayaknya manusia menempatkan diri sebagai hambanya hamba.

Dalam hal ini setiap pengikut Kristus harus dapat menempatkan diri secara benar di hadapan Tuhan, dan tidak menempatkan diri lebih tinggi maupun lebih besar dari Tuhannya.

"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yohanes 3:30).

Sebab jika status "anak Allah" telah melekat begitu kuat dalam diri seseorang, tanpa disadari maupun sadar, hal tersebut akan terbentuk pemikiran bahwa dirinya beda dengan manusia yang lain, seakan-akan lebih tinggi dari yang lain, baik dalam status rohani, pengetahuan, kelayakan, kesucian maupun fasilitas, dan akan merasa menjadi manusia pilihan dan istimewa di hadapan Allah.

Status "anak Allah" merupakan anugerah yang harus disyukuri. Namun, pemahaman menjadi anak Allah haruslah ditempatkan pada makna dan ruang yang tepat sesuai kebenaran. Jika pemahaman tidak sesuai dengan koridor, hal ini yang sedikit banyak akan menghambat pertumbuhan untuk menjadi manusia rohani yang dewasa dan matang.
 
Sebab sesungguhnya manusia bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa, hanya hamba yang tidak berguna, seperti yang difirmankan-Nya.

"Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Lukas 17:10).

3. Rendah hati

Yesus telah menunjukkan kerendahan hati-Nya tatkala menjadi manusia, dimana walaupun Dia adalah Anak, Ia tetap merendahkan diri-Nya.

"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8).

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Matius  11:29).

Pengikut Kristus harus memiliki kerendahan hati seperti halnya Yesus Kristus, tidak merasa sebagai "anak Allah", tidak merasa lebih tinggi dari yang lain, tidak merasa istimewa di hadapan Allah, sebab semua orang sama di hadapan Allah.

"Sebab Allah tidak memandang bulu" (Roma 2:11).

"Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya" (Kisah Para Rasul 10:34-35).

4. Taat hingga akhir

Walau Yesus adalah anak Allah, Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya.

"Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya" (Ibrani 5:8).

"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8).

Pengikut Kristus juga harus belajar untuk taat kepada segala firman Allah, dan tidak boleh sekedar menjaminkan diri  karena kasih karunia Allah, "demi darah Yesus", atau "demi nama Yesus" maupun karena "umat pilihan", tanpa belajar taat seperti Yesus.

Pengikut Kristus harus taat dan serupa dengan Yesus agar dapat memperoleh segala sesuatu dari Allah sesuai dengan kebenaran dan ketentuan Allah.

"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati" (Filipi 3:10-11).

"Dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya" (Ibrani 5:9).

5. Kudus

Saat Yesus datang ke dunia sebagai manusia, Ia juga menguduskan diri-Nya terus-menerus bagi umat manusia agar manusia dapat dikuduskan dalam kebenaran.

"Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;  dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran" (Yohanes 17:17-19).

Oleh karena kekudusan atau kesalehan Yesus, segala doa yang dipanjatkan kepada Allah didengarkan. Doa Yesus didengarkan oleh Allah bukan semata-mata karena Dia sebagai Anak Allah, namun oleh karena kesalehan-Nya saat menjadi manusia.

"Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan" (Ibrani 5:7).

Oleh karena itu, bagi para pengikut Kristus juga harus menjaga diri dengan terus-menerus mentaati segala firman Tuhan agar kekudusannya dapat memenuhi standar yang telah ditentukan oleh Allah.

"Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Petrus 1:13-16).

6. Lemah lembut

Selain kerendahan hati, Yesus juga memancarkan kelemahlembutan yang banyak dibutuhkan oleh umat manusia bagi ketenangan jiwanya. Yesus menuntun manusia dengan kelembutan dan rendah hati.

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Matius 11:29).

Kelemahlembutan juga harus dimiliki oleh setiap pengikut Kristus, baik bagi diri sendiri, bagi sesama maupun lembah lembut dalam menerima firman Tuhan.

"Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah" (I Petrus 3:4).

"Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan" (Galatia 6:1).

"Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu" Yakobus 1:21).

7. Menggenapkan seluruh kehendak Allah

Tujuan utama kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk melakukan dan menggenapkan seluruh kehendak Allah, baik tugas dalam membawa Injil Kerajaan Allah, penebusan dan pengampunan dosa, keselamatan, menyampaikan kebenaran maupun pekerjaan yang lain.

Bahkan, saat kedatangan-Nya ke dunia, hal itu sudah tertulis dalam gulungan kitab. Yesus memberikan contoh bahwa tubuh yang dikaruniakan Allah bagi setiap orang adalah sebagai sarana untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah.

"Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: 'Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki -- tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku --. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku'" (Ibrani 10:5-7).

Saat Yesus telah berada di dunia dan menjadi sama dengan manusia, Ia menunjukkan bahwa hidupnya sungguh-sungguh untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah.

"Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: 'Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah' Dan Yohanes pun menuruti-Nya" (Matius 3:15).

Bahkan saat menjelang penyaliban diri-Nya, pada saat di Taman Getsemani, dalam ratapan. kegentaran yang begitu berat, Yesus tetap menyerahkan yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah.

"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:39).

Jika Yesus Kristus yang adalah Anak Allah menggenapkan seluruh kehendak Allah, manusia juga harus belajar untuk mengerti kehendak Allah dengan sempurna agar dapat menggenapkan kehendak-Nya.

"Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna" (Kolose 1:9).

"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" (Matius 9-10).

8. Setia dan benar

Kesetiaan merupakan salah satu jaminan yang akan membawa manusia kepada tujuan, sebab tanpa kesetiaan, tidaklah mungkin sesuatu sampai kepada tujuan. Yesus Kristus adalah Yang Setia dan Yang Benar, yang menyampaikan kebenaran dan.

"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah" (Wahyu  3:1).

"Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi dan berperang dengan adil" (Wahyu  19:11).

Pengikut Kristus juga harus memiliki kesetiaan yang dilandaskan pada kebenaran.

"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (I Timotius 6:11).

"Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya" (I Yohanes 2:29).

"Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar"
(I Yohanes 3:7).

9. Mati terhadap dosa

Kematian Kristus adalah kematian terhadap dosa, Ia kudus dan tidak berdosa, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah.

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:14-15).
 
"Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya (Roma 6:10).
 
Demikian juga bagi manusia yang menjadi pengikut-Nya, ia harus telah mati terhadap dosa, dan kehidupannya adalah bagi Allah.

Manusia yang mati terhadap dosa adalah manusia yang tidak ada lagi tabiat dosa, tidak ada keinginan dan hasrat dosa, tiada terkandung dosa dalam hati dan pikiran, tidak berdosa dalam perkataan dan perbuatan, sehingga mencapai tahap mati terhadap dosa, seperti hati kanak-kanak yang tiada kejahatan didalam dirinya, tiada keinginan untuk mencuri, berzinah, berdusta dan segala keinginan jahat lainnya.

"Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa" (Roma 6:6-7).
 
"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Galatia 5:24). 

"Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus" (Roma 6:11).

Manusia yang telah mati terhadap dosa akan membuat dirinya sungguh-sungguh terbebas dari dosa dan rohnya kembali mengambil bagian dalam kodrat ilahi, sehingga sudah tidak dapat berbuat dosa lagi karena dilahirkan dari Allah.

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9).

10. Kehidupan bagi Allah 

Tidak berhenti sebatas mati terhadap dosa, namun kehidupan Kristus adalah kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah dengan jalan mentaati seluruh firman, dan menggenapkan seluruh kehendak Allah bagi kemuliaan Allah.
 
"Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah (Roma 6:10).
 
Demikian juga bagi manusia yang menjadi pengikut-Nya, seluruh kehidupannya adalah kehidupan bagi Allah dalam Kristus Yesus dengan jalan mentaati seluruh firman dan menggenapkan seluruh kehendak Allah juga.

 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus" (Roma 6:11).
 
"Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran (Roma 6:13).

11. Memiliki kasih Allah

Kasih Kristus adalah kasih ilahi yang tak berkesudahan, kasih kekal, kasih yang tiada akhir bagi seluruh umat manusia. Demikian juga bagi pengikut Kristus, harus memiliki kasih ilahi, baik kepada Allah maupun kasih kepada seluruh ciptaan-Nya.
 
Kasih manusia kepada Allah ditunjukkan dengan menuruti segala firman-Nya.

"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia" (Yohanes 14:23).
 
"Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"
(I Yohanes 4:16).
 
Sementara kasih kepada sesama manusia ditunjukkan kepada semua orang, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, dan semua agama dengan kasih yang tulus dan murni.
 
Dan dalam hal kasih, kualitas kasih bagi pengikut Kristus tidak sebatas kasih manusia untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, namun kasihnya harus sekualitas kasih Kristus, sesempurna kasih Kristus.
 
Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut perintah baru supaya saling mengasihi, mutu kasihnya harus sempurna dari kasih sebelumnya.
 
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:34-35).
 
"Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan" (Kolose 3:14).
 
"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:44-48).

12. Melakukan pekerjaan yang sama dengan Yesus

Kristus telah berkarya di dunia dengan sempurna. Setiap pengikut Kristus juga harus belajar melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang Yesus lakukan.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa" (Yohanes 14:12).

13. Melakukan pekerjaan yang lebih besar dari Yesus

Bahkan, bagi pengikut Kristus selain dapat melakukan pekerjaan yang telah Yesus kerjakan, manusia memiliki kesempatan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang Yesus telah kerjakan. 
 
Pengikut Kristus dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang pernah Yesus kerjakan, hal itu disebabkan karena kematangan manusia, baik dalam hal kedewasaan ilahi maupun dalam hal perkembangan teknologi yang tentunya dapat mendukung pekerjaan tersebut.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa" (Yohanes 14:12).

Implementasi karakter Kristus

Tatkala manusia memiliki karakter Kristus, hidup seperti Kristus telah hidup, memiliki pikiran, perasaan, dan pertimbangan seperti Kristus, mengerjakan pekerjaan seperti yang Yesus kerjakan, maka kesempurnaan ilahi akan dapat diraihnya.
 
"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus" (Kolose  1:28).

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibrani 12:2).
 
Inilah tahap yang seharusnya ditempuh oleh pengikut Kristus setelah memperoleh karunia berupa keselamatan, yaitu menggapai kesempurnaan dalam Kristus dalam rangka menggenapkan firman-Nya untuk sempurna seperti Allah, dan berkarya bagi kemuliaan-Nya.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48)

"Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" (Yesaya 43:7). Amin.
(Injil Kerajaan Allah)

Ayat-ayat rujukan yang dipergunakan di dalam situs Injil Kerajaan Allah berasal dari Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974 dan Lembaga Biblika Indonesia.