Dua Jenis Pengampunan Dosa

Dua Jenis Pengampunan Dosa

Pada dasarnya, setiap manusia memerlukan dua jenis pengampunan dari Allah, yaitu pengampunan terhadap pelanggaran kedaulatan Allah, dan pengampunan terhadap pelanggaran hukum Allah.

Dua jenis pengampunan

Sejak kejatuhan manusia pertama Adam dalam dosa, mengakibatkan semua orang jatuh ke dalam dosa. Tidak ada seorangpun yang tidak berdosa, semua orang telah jatuh dalam dosa.

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).

"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 5:12).

Dan pelanggaran yang dilakukan oleh Adam mengakibatkan penghakiman dan penghukuman bagi semua orang.

"Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman" (Roma 5:16).

Dalam keadaan berdosa, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dosa, maupun mengharapkan keselamatan dari orang lain.

Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa, ada dua hal mendasar yang dilanggar, yaitu pelanggaran terhadap kedaulatan Allah sebagai pribadi, dan pelanggaran terhadap hukum Allah sebagai ketetapan hukum. Manusia membutuhkan pengampunan atas dua jenis pelanggaran tersebut, yaitu pengampunan atas pelanggaran kedaulatan Allah, dan pengampunan atas pelanggaran hukum Allah.

Adalah seorang pencuri yang mencuri barang berharga di rumah seorang imam. Pencuri tersebut menjual hasil curiannya dan dipergunakan untuk berfoya-foya. Dalam perjalanan waktu, pencuri tersebut akhirnya tertangkap oleh petugas.

Pencuri tadi menyadari kesalahannya dan menyesal. Dia datang kepada imam tersebut dan memohon pengampunan atas perbuatan yang salah, dan imam tersebut mengampuni dan akhirnya mereka berpelukan dan berdamai.

Pencuri itu pun datang kepada petugas dan melakukan hal yang sama, memohon pengampunan atas perbuatannya mencuri, namun petugas berkata:

"Maaf saudara, kami tidak dapat memberikan pengampunan, sebab siapa yang melakukan pencurian harus dihukun. Kami bertanggung jawab kepada hukum. Hukum harus dijalankan dengan benar dan adil. Saudara kedapatan mencuri dan akan dihakimi dan akhirnya dihukum sampai masa hukuman selesai."

Dalam hal ini, pencuri memperoleh kemurahan berupa pengampunan dari imam tersebut, namun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, dan menjalani proses hukuman hingga masa hukuman berakhir.

Pengampunan atas pelanggaran kedaulatan Allah

Dosa pelanggaran kepada kedaulatan pribadi Allah akan diampuni. Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni segala dosa manusia tatkala seruannya dipandang layak untuk memperoleh pengampunan.

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya" (Yesaya 55:6-7).

Pengampunan atas pelanggaran hukum Allah

Hukum Allah merupakan ketetapan-ketetapan Allah untuk mengelola, mengatur segala ciptaan-Nya, yang dijalankan dengan kebenaran dan keadilan dan kebijaksanaan. Hukum Allah berlaku untuk semua ciptaan, dijalankan di segala tempat, baik di dunia maupun di sorga.

"Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya" (Mazmur 119:160).

Pada saat tidak taat kepada hukum Allah, manusia telah melanggar hukum-Nya.

"Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1 Yohanes 3:4).

Setiap manusia yang melakukan pelanggaran hukum Allah akan mempertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat, yaitu pada saat penghakiman.

"Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:12).

Dosa pelanggaran terhadap hukum Allah berkaitan dengan ketetapan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab, yang tidak dapat dibebaskan dengan pengakuan dosa.

Bukti bahwa pelanggaran terhadap hukum Allah belum memperoleh pengampunan adalah akan adanya penghakiman, dimana semua orang akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, baik maupun jahat.

"Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.

Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:11-12).

Seorang yang mencuri dapat memperoleh pengampunan dari pemilik barang yang dicuri, namun ia harus tetap bertanggung jawab di hadapan hukum, dan menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dari dua hal pelanggaran yang mendasar yaitu pelanggaran terhadap kedaulatan Allah dan pelanggaran terhadap hukum Allah, manusia membutuhkan pengampunan terhadap dua jenis pelanggaran tersebut.

Dan dalam hal ini manusia baru memperoleh pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah saja, belum memperoleh pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah, sehingga manusia masih harus mempertanggungjawabkan di takhta pengadilan Allah.

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah" (Roma 14:10).

Manusia tidak memiliki jalan keluar untuk mengatasi akibat dari pelanggaran terhadap hukum Allah selain harus mempertanggungjawabkan pada saat penghakiman kelak.

Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dalam kasih, Allah telah menyediakan jalan keluar bagi manusia agar memperoleh pengampunan yang sempurna, baik pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah.

Dengan jalan demikian, manusia dapat melanjutkan proses menuju kesempurnaan ilahi, seperti tujuan awal penciptaannya.

Manusia dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan

Allah Yang Mahatahu, pada mula pertama, sebelum Bumi ada, saat dimana Allah hendak merencanakan untuk menciptakan makhluk manusia agar memiliki moral sorgawi, kudus dan tak bercacat, dan sempurna di hadapan-Nya, Allah mengetahui bahwa suatu saat manusia akan jatuh ke dalam dosa, walaupun Allah telah mencegah dan melindunginya dengan firman-Nya, namun manusia memilih tidak taat.

Untuk menolong manusia keluar dari dosa, dan agar dapat kembali meraih kesempurnaan ilahi, Allah telah menyediakan berbagai cara yang telah dipilih dan disediakan sebelum dunia dijadikan, dan dinyatakan pada zaman akhir.

"Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (I Petrus 1:20 ).

Allah mengirimkan berbagai bentuk pertolongan, mulai dari mengutus para malaikat dan para nabi, dan akhirnya Allah sendiri hadir ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa, agar dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan, yaitu kesempurnaan.

Keselamatan

Pada mula pertama, sebelum Bumi ada, saat dimana Allah hendak merencanakan untuk menciptakan makhluk manusia, sesungguhnya Allah mengetahui bahwa suatu saat manusia akan jatuh ke dalam dosa, tidak taat kepada-Nya.

Manusia akan menanggung akibat dosa yang begitu berat, yang tidak dapat diselesaikan oleh manusia sendiri, seperti halnya dengan pelanggaran terhadap hukum Allah yang tidak dapat dihapuskan begitu saja.

Untuk menolong manusia keluar dari dosa, Allah telah menyediakan jalan keluar yang telah disediakan dan dipilih sebelum dunia dijadikan, dan dinyatakan pada zaman akhir.

"Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir" (I Petrus 1:20 ).

"TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum Bumi ada" (Amsal 8:22-23).

Pertolongan yang Allah sediakan sebelum dunia dijadikan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia disebut keselamatan, yang telah diperkenalkan kepada segala bangsa.

"TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa" (Mazmur 98:2).

"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (I Timotius 2:4).

Keselamatan merupakan kasih karunia Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dengan jalan menebus dari hukum dosa dan hukum maut agar manusia memperoleh penebusan dan pengampunan dari segala dosa, baik pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah; dengan demikian manusia dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan, untuk dibentuk menjadi ciptaan yang sempurna seperti Allah.

Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia, dan dengan jalan keselamatan manusia dapat dikembalikan kepada tujuan awal penciptaan.

"Karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu" (I Petrus 1:9-10).

Allah hadir sebagai penebus

Untuk menyelamatkan umat manusia, Allah tidak mengutus duta atau utusan, melainkan Allah sendiri yang hadir untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa agar kembali menjadi milik-Nya.

"Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala" (Yesaya 63:9).

"Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya" (Yohanes 12:46-47).

"Di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa" (Kolose 1:14).

Allah satu-satunya Juruselamat yang menyelamatkan dunia, dan tidak ada yang lain.

"Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah" (Yesaya 43:10-12).

"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12).

Dan keselamatan yang datang dari Tuhan inilah yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia di seluruh dunia, karena oleh-Nya manusia diselamatkan.

"Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!" (Yesaya 25:8-9).

Keselamatan bagaikan air yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Namun, manusia harus mengambil air itu dan meminumnya.

Demikian juga dengan keselamatan, manusia harus meraihnya dengan jalan menyadari segala dosanya dan percaya kepada penebusan-Nya, datang bertobat dan memohon pengampunan kepada Allah Sang Juruselamat.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (I Yohanes 1:9).

Dengan keselamatan manusia memiliki kesempatan untuk memperoleh pengampunan yang sempurna, yaitu pengampunan atas pelanggaran terhadap kedaulatan Allah maupun pengampunan atas pelanggaran terhadap hukum Allah. Itulah pengampunan yang sempurna yang diharapkan oleh setiap orang.

Tujuan keselamatan

Sesungguhnya, keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia memiliki tujuan yang mendasar. Manusia bukan sekedar diselamatkan dari hukum dosa dan hukum maut serta dibebaskan dari hukuman kekal, namun Allah menghendaki agar manusia melanjutkan pekerjaan baiknya dalam merealisasikan kesempurnaan yang telah Allah tetapkan sebelum dunia dijadikan.

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Efesus 2:8-10).

Keselamatan bukanlah puncak dari iman, namun awal dari manusia baru untuk melanjutkan proses kesempurnaan.
(Injil Kerajaan Allah)