• Injil Kerajaan Allah

    Injil Kerajaan Allah (IKA) merupakan Manajemen Allah atas segala ciptaan-Nya, dimana Allah sebagai pusat pimpinan, dan sumber dari segala sesuatu, di Bumi dan di Sorga.

  • Kesempurnaan Manusia

    Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Hal tersebut terjadi karena kodrat manusia yang dikaruniakan oleh Allah memiliki tiga unsur utama, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain, misalkan malaikat.

  • Menuju Kesempurnaan Ilahi

    Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia. Allah Yang Maha Sempurna menghendaki agar suatu saat makhluk manusia pada tingkat tertentu mampu mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki-Nya.

  • Tahap Menuju Kesempurnaan Ilahi

    Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia. Allah Yang Maha Sempurna menghendaki agar suatu saat makhluk manusia pada tingkat tertentu mampu mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki-Nya.

  • Sistem Kesempurnaan Ilahi

    "Sistem Kesempurnaan Ilahi" merupakan tata cara sorgawi yang dipergunakan sebagai sarana untuk membentuk manusia agar mencapai kesempurnaan pribadi seperti Allah.

Saudara-saudara terkasih, umat manusia dari segala bangsa di seluruh dunia.

Mari! Dalam Tatanan Tuhan yang sempurna, kita hidup untuk saling mengasihi dan menyempurnakan, antar pribadi dan antar bangsa. Kita hadirkan damai sejahtera, kesejahteraan, sukacita, kebenaran, keadilan, kasih dan kesempurnaan bagi setiap pribadi, dari segala suku, bahasa, kaum, bangsa dan agama di seluruh dunia bagi kemuliaan Allah!

Dengan jalan demikian, kita memenuhi Hukum Allah untuk saling mengasihi, dan hidup untuk saling menyempurnakan, seperti TUHAN yang mengasihi seluruh umat manusia.

#InjilKerajaanAllah

Mengenal Allah Melalui Teknologi

Injil Kerajaan Allah - Setelah berabad-abad dan beribu-ribu tahun lamanya Keilahian Allah tersembunyi bagi umat manusia, disebabkan pengertian tentang Keilahian Allah melampaui segala pengetahuan, sehingga sulit untuk dipahami - dan bahkan hampir-hampir saja tak dapat dicerna dengan akal dan logika, baik bagi orang yang percaya maupun bagi yang belum percaya. Kini dengan kemajuan teknologi, seperti teknologi komputer dan jaringan internet serta teknologi lainnya, Keilahian Allah perlahan-lahan dapat ditangkap dengan nalar. Seperti surya yang merekah di pagi hari, perlahan naik dan naik sampai terang benderang menerangi kegelapan Bumi. Demikian halnya dengan pengertian manusia, melalui pendekatan teknologi, pengenalan akan Allah semakin mendalam.

Dengan memanfaatkan pendekatan teknologi sebagai media ataupun gambaran untuk penalaran, Keilahian Allah dapat dicerna dengan logika. Pengertian manusia akan Rahasia Allah yang hampir buntu, kini terpecahkan. Seperti sulitnya manusia menghitung 0,1234567890 x 0,9876543210 dengan akal. Namun, dengan ditemukannya komputer, manusia hanya memerlukan hitungan detik untuk memperoleh hasilnya. Demikian halnya betapa sulit mengajarkan ilmu komputer kepada manusia pada tahun 7 SM, suatu hal yang mustahil dan tidak masuk akal pada saat itu. Namun ilmu komputer dapat dipahami oleh manusia dengan cepat sekitar tahun 1900-an setelah kematangan pengetahuan manusia bertumbuh. Demikian juga Keilahian Allah, dengan pendekatan teknologi dan oleh kematangan manusia, pengenalan akan Allah dapat dimengerti dengan lebih cepat.

Dasar Pengertian
Allah Yang Mahaesa, adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu, dari yang tidak ada menjadi ada; yang menciptakan segala makhluk, baik yang di Sorga maupun di Bumi, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, dahulu, sekarang maupun untuk masa yang akan datang, Ia adalah Roh, Allah Yang Satu, Tuhan bagi segala ciptaan-Nya. Ia bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, dan tak seorangpun dapat melihat-Nya. Ia melampaui segala sesuatu, dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ia adalah Pribadi Agung Mulia Yang Sempurna.

Walaupun Allah melampaui segala sesuatu, namun Allah berkenan untuk dicari dan ditemukan. Kesempurnaan Allah tidaklah mungkin dapat digapai oleh yang tidak sempurna seperti halnya manusia. Namun, dengan berbagai cara Allah berkenan berbicara kepada manusia, baik melalui ciptaan-Nya, maupun melalui malaikat-malaikat yang diutus-Nya agar manusia menemukan-Nya.

Dan setelah dengan berbagai cara Allah berfirman untuk menggembalakan umat-Nya, kini Allah sendiri hadir ke Bumi di tengah-tengah umat-Nya dalam rupa yang dapat ditangkap oleh manusia.

Dari kesempurnaan dan segala ketidakterbatasan Allah, kodrat Allah yang diperkenankan untuk dipahami dan dimengerti oleh manusia yaitu bahwa Allah adalah Esa, dan Allah adalah Roh, yang memiliki tiga bagian unsur ilahi, yang dalam berbagai kesempatan, Allah menyebut diri-Nya dengan sebutan Kita untuk menunjukkan keberadaan-Nya.

Nah, pada akhir zaman di era modern yang serba digital ini, selain mengajar manusia dengan iman, Allah berkenan "mempergunakan" teknologi untuk mengajar manusia agar lebih mudah memahami diri-Nya. Tentu, dengan alur teknologi yang ditemukan oleh akal manusia sendiri, maka bahasa teknologi akan lebih mudah ditangkap dan diserap oleh manusia dalam pengenalan akan Allah. Akal sebagai karunia Sang Ilahi kepada manusia, oleh karena pimpinan-Nya akan dapat melahirkan akal budi yang dapat dipakai sebagai alat untuk menemukan diri-Nya.

###

Walaupun Allah telah berfirman dengan berbagai cara untuk mengajar manusia tentang keilahian-Nya, baik melalui para malaikat, para nabi, maupun melalui ciptaan yang lain, kini pada zaman akhir dalam dunia digital modern, Allah berkenan “berbicara” dengan teknologi untuk mengajar keberadaan-Nya. Dengan teknologi yang semakin maju dan berkembang yang ditemukan oleh umat manusia, segalanya disediakan oleh Allah untuk pendidikan manusia. Penemuan teknologi demi teknologi oleh manusia - diperkenankan Allah untuk mengajar agar manusia semakin mengenal kebesaran-Nya dan memahami jalan-jalan-Nya agar dapat menemukan-Nya. Pada hakekatnya, semua teknologi yang ditemukan sejak zaman dahulu, sekarang hingga pada kesudahan zaman merupakan gambaran kecil dari sistem Allah yang sesungguh-Nya.

Di era modern, komputer, internet, alat komunikasi, televisi, radio dan teknologi lainnya dapat semakin mempermudah manusia dalam pengenalan akan Allah. Penalaran sistem teknologi perlahan-lahan membuka mata manusia untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Sistem yaitu Allah. Kecanggihan teknologi dapat memberikan sekelumit gambaran tentang Allah yang Maha Canggih. Salah satu cotoh Keilahian Allah yang dapat kita pelajari melalui pendekatan teknologi adalah Allah Yang Maha  Hadir, dimana Allah dapat hadir di tempat yang berbeda-beda dan dalam waktu yang bersamaan, yang tentu hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh ciptaan-Nya.

Ada beberapa sistem teknologi yang dapat dipergunakan sebagai penalaran dalam memahami Allah. Teknologi internet seperti Google.com, Yahoo.com, Bing.com, Facebook.com, Twitter.com, Youtube.com; teknologi audio video seperti televisi, radio serta teknologi lainnya - sebenarnya telah banyak memberikan gambaran tentang Allah secara rasional.

Seperti Google.com misalnya, Google.com hanya ada satu. Namun Google.com memiliki sistem teknologi yang canggih di dalam dunia internet. Dengan melihat sistem yang ada di dalamnya, Rahasia Allah dapat dimengerti dengan lebih mudah oleh manusia.

###

Tatkala di suatu tempat pada pukul 00.01 ada seorang yang membuka Google.com dengan PC untuk mencari informasi tentang pohon, dan mengetikkan kata pohon, maka Google.com akan memberikan informasi yang terkait dengan pohon.

Sementara di tempat yang lain pada pukul 00.01 tanggal yang sama, ada orang lain yang juga membuka Google.com dengan handphone hendak mencari informasi tentang binatang dan mengetikkan kata binatang, maka Google.com akan memberikan informasi yang terkait dengan binatang.

Ditempat yang lain juga pada pukul 00.01 tanggal yang sama, ada orang lain yang membuka Google.com dengan Laptop untuk memperolah informasi tentang air dan mengetikkan kata air, maka Google.com akan memberikan informasi yang terkait dengan air.

Sementara itu, dalam waktu yang sama yaitu pada pukul 00.01 tanggal yang sama, namun di tempat yang berbeda, ada berpuluh, beratus, beribu, dan bahkan mungkin berjuta orang juga membuka Google.com baik dengan PC, Laptop, Handphone maupun dengan media lain untuk mencari informasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing, maka Google.com juga akan memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

Oleh kecanggihan teknologi yang dimiliki Google.com, dalam waktu yang bersamaan yaitu pada pukul 00.01, Google.com dapat melayani sepuluh, seratus, seribu bahkan berjuta orang dengan kebutuhan yang berbeda dan di tempat yang berbeda.

Tatkala ada satu orang membuka Google.com, maka Google.com berwajah satu, tatkala ada dua orang membuka Google.com, maka ia memiliki dua wajah, jika ada tiga orang membuka Google.com, maka Google.com ada tiga wajah dan bahkan jika ada satu juta orang membuka Google.com, maka Google.com dapat menjadi satu juta wajah pada monitor di tempat yang berbeda namun dalam waktu yang bersamaan. Tentu, hal tersebut dapat terjadi karena ada sistem teknologi yang mendukung di dalamnya.

Google.com adalah satu dan tetap satu, namun oleh sistem teknologinya, Google.com dapat menjadi satu, dua, tiga dan berjuta wajah sesuai dengan kebutuhan dalam waktu yang bersamaan walaupun di tempat yang berbeda-beda. Dan dari kecanggihan sistem teknologi yang dimiliki Google.com, tak seorangpun yang membantah bahwa dari Google.com yang satu namun dapat menjadi banyak sesuai dengan kebutuhan. Dan tak seorangpun dari mereka yang mengetahui dengan pasti keberadaan Google.com yang sesungguhnya kecuali pengelola maupun pemilik Google.com.

###

Sistem kecanggihan teknologi yang diperkenankan Allah untuk ditemukan oleh manusia, sedikit banyak telah memberikan sekelumit gambaran dari Allah Yang Maha Sistem nan Maha Canggih.

“Jika manusia dapat memahami penalaran tentang teknologi seperti Google.com maupun teknologi lainnya yang bersistem dengan akal budinya menjadi sesuatu yang nyata, pengertian Allah tinggal disublimasikan atau ditingkatkan, dari pengertian teknologi ke pengertian tentang Allah, bahwa Allah Yang Mahaesa, dalam Keilahian-Nya, Ia dapat hadir dalam satu, dua, tiga maupun bermilyard rupa - bahkan dengan tidak terbatas dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda-beda”.

Begitu mudah dan sederhana penalarannya, namun memiliki dampak pengertian yang luar biasa, yang mampu membuka cakrawala Ilahi yang melampaui segala pengetahuan yang telah berabad-abad dan berjuta-juta tahun tersimpan dan menjadi rahasia bagi umat manusia.

###

Allah sebagai Pribadi Yang Sempurna tentu tidak dapat dipahami dengan sempurna oleh manusia. Keterbatasan manusia tidaklah mungkin mampu mengenal Allah yang tak terbatas. Mungkin, jika mempergunakan nilai perbandingan antara manusia dan Allah, manusia bernilai satu sedangkan Allah bernilai tak terhingga (1:~). Sebagai ciptaan, manusia hanya mampu memahami sebagian kecil saja dari diri Sang Pencipta.

Dalam keberadaan-Nya yang sempurna, Allah berkenan ditemukan oleh ciptaan-Nya. Tentu Allah mengenal siapa manusia ciptaan-Nya. Namun sebaliknya, bagi manusia yang tidak pernah melihat Allah, bagaimana mungkin dapat mengenal-Nya? Sementara Allah bersemayam dalam terang yang tak terhampiri? Suatu hal yang mustahil, baik bagi manusia maupun bagi makhluk lain untuk dapat menggapai Allah.

Allah Dan Injil Kerajaan Allah
Sebagai Allah yang sempurna dan tak terbatas,- yang tidak mungkin dapat dilihat oleh ciptaan-Nya, maka Allah yang tak terbatas berkenan membatasi diri-Nya agar keilahian-Nya dapat disentuh dan dipegang oleh ciptaan-Nya, dengan tujuan agar segala makhluk dapat menemukan diri-Nya.

Memang, dalam keberadaan Allah yang sesungguhnya, tak seorangpun dapat melihat-Nya, dan tak satu makhluk pun dapat menjamah-Nya. Untuk mengelola dan menjembatani antara diri-Nya dan ciptaan-Nya, Allah membentuk sistem dalam diri-Nya sebagai yang sulung dari segala ciptaan-Nya yang diperkenalkan sebagai Sistem Allah.

Sebagai Roh Yang Sempurna, Allah berkenan menyatakan diri-Nya dalam rupa yang dapat ditangkap oleh segala makhluk. Rupa Allah yang telah dibatasi (diselaraskan) tersebut adalah bagian dari diri-Nya yang telah disetarakan dengan ciptaan-Nya, dengan tujuan agar ciptaan-Nya dapat berbahasa dengan-Nya. Bagian dari diri Allah yang telah disetarakan tersebut ada di dalam Rupa Yesus Kristus, karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Sebab tanpa Allah berkenan menyatakan diri dalam rupa “ciptaan” maka Allah Yang Roh tidak mungkin dapat terjangkau oleh ciptaan-Nya.

Seperti seorang ayah yang harus “menjadi bayi” untuk dapat berbicara dengan anaknya yang masih bayi,- seorang bayi tidaklah mungkin dapat memahami bahasa ayahnya jika sang ayah mempergunakan bahasa orang dewasa saat berbicara dengan sang bayi. Kala itu, sang ayah tertawa seperti bayi, bermain seperti bayi, berbicara seperti bayi dan segala sesuatu berlaku dan bertindak seperti bayi demi tujuan agar dapat berkomunikasi dengan bayinya; dan ia rela untuk “menjadi bayi”. Namun kelak, tatkala sang bayi telah dewasa, sang ayah tidak perlu lagi “menjadi bayi”, melainkan ia menjadi ayah yang dapat berkomunikasi dengan putranya, bahkan dapat menjadi sahabat dan berkarya bersama-sama. Untuk itulah Allah berkenan “menjadi ciptaan” untuk dapat mengimbangi kemampuan ciptaan-Nya yang terbatas, sampai waktunya kelak ciptaan-Nya bertumbuh menjadi dewasa dan dapat semakin mengenal Allah dengan sempurna.

###

Seperti halnya ada tiga unsur dalam diri manusia, yaitu roh, jiwa dan tubuh. Roh sebagai bagian yang tidak kelihatan, sementara jiwa dan tubuh sebagai bagian yang kelihatan. Kepala, tubuh, kaki, tangan, mata, telinga, hidung, mulut merupakan bagian tubuh yang terlihat. Sementara, jiwa terlihat ekpresinya tatkala sedang sedih, bahagia, marah, sabar, gentar, berani dan berjuta ekspresi lainnya. Tubuh, jiwa dan roh merupakan tiga unsur manusia. Tiga unsur manusia dalam satu kesatuan yang masing-masing unsur memiliki tempat, tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda.

Demikianlah gambaran Allah dalam ke-Ilahian-Nya. Allah Yang Mahaesa memiliki tiga unsur ilahi yang diperkenalkan sebagai Bapa, Anak/Firman/Yesus Kristus dan Roh Kudus. Mengapa Allah  memperkenalkan tiga unsur dalam diri-Nya dengan sebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus dan tidak memakai istilah Ilahi? Bukankah Allah dapat melakukan? Ya! Allah dapat melakukan. Namun, hal tersebut kembali kepada keterbatasan manusia yang tidak mungkin mampu menangkap Allah yang tidak terbatas. Jika Allah memakai bahasa Allah, tentu manusia tidak  dapat mengerti. Seperti seorang bayi misalnya, yang diajarkan tentang unsur yang ada di dalam ayahnya. Seorang bayi tidak akan mengerti  tentang roh, jiwa dan tubuh yang ada di dalam sang ayah. Yang diketahui oleh seorang bayi hanyalah kehadiran sang ayah yang dapat dirasakan olehnya. Namun kelak, taktkala sang bayi bertumbuh menjadi dewasa, maka ia akan memahami sang ayah dengan lebih sempurna. Demikian halnya dengan Allah, Allah mengajarkan sejauh yang dapat ditangkap oleh manusia, dengan bahasa manusia. Kelak, taktkala manusia memasuki kedewasaan roh, ia akan mengenal Allah dengan lebih sempurna.

Dari ketiga unsur Allah, ada Satu yang tidak kelihatan dan ada Dua yang kelihatan
Yang tidak kelihatan adalah diri Allah dalam kodrat-Nya sebagai Bapa (Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia), sementara yang kelihatan adalah bagian diri-Nya yang telah disetarakan dengan ciptaan-Nya agar dapat tersentuh yaitu: Firman/Anak/Yesus Kristus (Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya) Roh Kudus (Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu).

Firman dan Roh Kuduslah yang akan berhubungan langsung dengan segala ciptaan-Nya semenjak penciptaan atas segala sesuatu, baik di Sorga maupun di Bumi.

###

Bapa, Anak dan Roh Kudus merupakan tiga unsur Allah yang Esa. Dalam kodrat Ilahi-Nya, Allah dapat hadir di segala tempat,- sebab segala sesuatu ada di dalam Dia. Ungkapan segala sesuatu ada di dalam Dia, berarti Allah lebih besar dari segala ciptaan-Nya.

Jika suatau benda ada di dalam Bumi, maka Bumi lebih besar daripada benda tersebut. Jika ikan ada di dalam air, maka air lebih besar daripada ikan. Jika burung-burung ada di langit, maka langit lebih besar daripada burung-burung. Jika bintang-bintang ada di cakrawala, maka cakrawala lebih besar daripada bintang-bintang. Dan jika segala benda langit ada di dalam alam semesta, maka alam semesta lebih besar daripada segala benda yang ada di dalamnya. Kini,  jika segala sesuatu ada di dalam Allah, bukankan berarti Allah lebih besar dari segala sesuatu? Tatkala Allah ada di Sorga, Ia juga ada di Bumi. Jika Allah ada di Bumi, Ia juga ada di Sorga.

Sesungguhnya, gambaran Allah juga dapat dilihat dalam diri manusia yang terdiri dari roh, jiwa dan tubuh dalam satu kesatuan; tiga unsur menjadi satu yang kemudian dinamakan manusia. Demikianlah penalarannya.

Sementara, untuk mengelola segala ciptaan-Nya, Allah memiliki suatu sistem manajemen kekal yang dapat memayungi segala ciptan-Nya, baik bagi manusia, para makhluk sorgawi, maupun untuk segala ciptaan Allah lainnya. Manajeman untuk mengelola ciptaan-Nya dinamakan Injil Kerajaan Allah. Secara umum, pengertian Injil Kerajaan Allah merupakan manajemen Allah atas segala ciptaan-Nya, dimana Allah sebagai pusat pimpinan, dan sumber dari segala sesuatu, di Bumi dan di Sorga. Injil sebagai kabar gembira, sedangkan fakta kebahagiaan ada di dalam Injil Kerajaan Allah.

###

Di atas segala-galanya, baiklah setiap makhluk di Bumi maupun di dalam Sorga hidup beribadah sesuai dengan kehendak Allah; hidup sesuai dengan tujuan Allah atas penciptaan masing-masing, dan berkarya bagi Sang Pencipta; bagi TUHAN, Allah segala makhluk.

Sebab, segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Dia dan bagi kemuliaan-Nya, sampai selama-lamanya. Amin.

#InjilKerajaanAllah
Share:

Sistem Kesempurnaan Ilahi

"Sistem Kesempurnaan Ilahi" merupakan tata cara sorgawi yang dipergunakan sebagai sarana untuk membentuk manusia agar mencapai kesempurnaan pribadi seperti Allah. Proses dimulai sejak roh manusia diciptakan, dilahirkan ke dunia sebagai makhluk berdosa, dituntun dalam pertobatan, lalu diproses menjadi pribadi yang baik, dan dari pribadi yang baik ditingkatkan menjadi pribadi yang berkenan, dan dari pribadi yang berkenan akhirnya ditingkatkan menjadi pribadi yang sempurna seperti Allah.

Pembentukan kesempurnaan manusia di dunia dapat terpenuhi dengan ketentuan, bahwa manusia telah mencapai kematangan roh dan siap memasuki Sistem Kesempurnaan Ilahi yang disediakan di dalam Injil Kerajaan Allah, untuk memproses dirinya dari titik nol hingga menjadi pribadi yang sempurna seperti Allah.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna."

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus."

"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

Injil Kerajaan Allah menyediakan fasilitas keilahian untuk membentuk manusia dari makhluk yang bersifat daging, dibentuk menjadi pribadi yang sempurna seperti Allah dan berkodrat ilahi. Perkara yang mustahil menjadi nyata. Tentu, untuk mencapai kesempurnaan ilahi memerlukan proses yang ketat melalui tahap menuju kesempurnaan ilahi.

Share:

Tahap Menuju Kesempurnaan Ilahi

Injil Kerajaan Allah - Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia. Allah Yang Maha Sempurna menghendaki agar suatu saat makhluk manusia pada tingkat tertentu mampu mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki-Nya. Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, melainkan manusia dibentuk dengan tujuan agar dapat menjadi pribadi yang sempurna seperti diri-Nya.

Kesempurnaan menjadi kehendak Allah kepada umat manusia agar bersedia memproses dirinya bersama dengan tuntunan Allah untuk mencapai kesempurnaan ilahi seperti yang difirmankan-Nya:

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna."

Sesuai firman, kesempurnaan bukanlah suatu pilihan, melainkan keharusan. Tentu saja, kesempurnaan bagi manusia tidak akan sama dengan kesempurnaan Allah, melainkan kesempurnaan dalam batas sempurna seperti Allah. Kesempurnaan dengan segala kemuliaan dan hormat disediakan oleh Allah bagi tiap pribadi dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di seluruh muka Bumi.

Tahap Menuju Kesempurnaan Ilahi

Roma 12:1-2

    12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Seperti yang tertulis di dalam firman Tuhan, ada beberapa tahap yang harus ditempuh oleh setiap manusia yang memasuki Injil Kerajaan Allah guna mencapai kesempurnaan Ilahi. Tahapan dari baik, berkenan hingga sempurna. Pembentukan dimulai dari manusia berdosa yang telah bertobat, dan menjadi pribadi yang baik, kemudian dari pribadi yang baik ditingkatkan kualitasnya menjadi pribadi yang berkenan; dan dari pribadi yang berkenan ditingkatkan lagi menjadi pribadi yang sempurna. Allah akan membentuk setiap pribadi dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa yang siap menjadi pribadi yang sempurna dalam Injil Kerajaan Allah.


Tahap Menuju Kesempurnaan Ilahi
Pribadi Yang Baik Pribadi Yang Berkenan Pribadi Yang Sempurna
Tidak Berbuat Dosa
Tabiat dosa dimiliki setiap orang karena setiap orang telah berdosa.
Untuk memasuki tahap pribadi yang baik, manusia harus bertobat dari segala dosa dan kejahatan, dan tidak berbuat dosa lagi hingga kematian.
Walau tabiat dosa masih ada dalam setiap pribadi, namun seseorang yang telah bertobat mampu menyangkal diri; menguasai dosa, sehingga selama hidupnya tidak berbuat dosa lagi, dari dosa kecil hingga dosa besar.
Jika seorang manusia mampu tidak berbuat dosa hingga kematian, ia memasuki tahap menjadi pribadi yang baik.

Mati Terhadap Dosa

Bagi manusia yang telah memasuki menjadi pribadi yang berkenan, tabiat dan keinginan dosa sudah tidak ada lagi, ia telah mati dari segala dosa.
Keinginan dalam hal dosa seperti anak kecil yang berumur satu tahun. Anak kecil di dalam hatinya tidak ada keinginan untuk berzinah, mencuri, membunuh, bersaksi dusta dan keinginan duniawi lainnya. Yang ada hanya keinginan untuk bertumbuh dan bersandar kepada orangtuanya, baik untuk makan, minum, mandi dan kebutuhan lainnya. Keinginannya murni dan tidak terkotori dengan segala keinginan duniawi.
Jika seseorang telah mati terhadap dosa, pada tahap inilah ia menjadi pribadi yang berkenan.
Menjadi Seperti Allah: Mengambil Kodrat Ilahi; Hidup Dengan Tata Kehidupan Sorgawi

Berkehendak seperti yang Allah kehendaki, dan bukan seperti yang manusia kehendaki.
Berperasaan seperti Allah. Dalam segala perasaan mencerminkan perasaan Allah.
Berpikir seperti Allah. Dalam segala pikiran mencerminkan pikiran Allah.
Bertindak seperti Allah. Segala perbuatannya mencerminkan tindakan Allah.
Berkarya Seperti Allah. Segala karyanya mencerminkan karya dari  Allah Sang Mahakarya.
Melakukan Segala Perintah Allah.
Selain tidak berbuat dosa dalam hidupnya, pribadi yang baik juga mampu mentaati segala firman Allah. Ketaatan dimulai dari perkara kecil hingga perkara besar; mengasihi sesama manusia, mengasihi musuh dan mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati. Taat dengan tidak bercela.
Setelah mencapai tahap menjadi pribadi yang baik dengan hidup kudus, tidak berdosa dan mentaati segala firman Tuhan, manusia dapat meningkatkan kualitasnya menjadi pribadi yang berkenan.
Menggenapkan Segala Kehendak Allah
Selain telah mati terhadap dosa (tidak memilkili keinginan dosa), pribadi yang berkenan juga mampu menggenapkan seluruh kehendak Allah. Ia menjadi pribadi yang mampu mengerti dan melakukan kehendak Allah dengan sempurna.
Setelah mencapai tahap menjadi pribadi yang berkenan, yang telah mati terhadap dosa, dan menggenapkan seluruh kehendak Allah, manusia dapat meningkatkan kualitasnya menjadi pribadi yang sempurna.
Manusia berpribadi sempurna adalah manusia yang berkodrat Ilahi, dan dalam kehidupannya mencerminkan pribadi Allah yang sempurna.
Dia hidup sama seperti Kristus telah hidup. Bahkan, dengan kematangan rohnya dan oleh kemajuan zaman, dia mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang Yesus pernah kerjakan pada saat Ia di dunia.
Ia mencerminkan kehadiran Allah, yang dapat dilihat dan dirasakan keilahian-Nya oleh segala makhluk di dunia.
Materi didalam tabel merupakan tulisan pendek yang memerlukan uraian atau pejelasan lebih lanjut. Untuk uraian selengkapnya silahkan dilihat pada artikel terkait!
Share:

Menuju Kesempurnaan Ilahi

Injil Kerajaan Allah - Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan manusia. Allah Yang Maha Sempurna menghendaki agar suatu saat makhluk manusia pada tingkat tertentu mampu mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki-Nya. Manusia diciptakan bukan sekedar dari yang tidak ada menjadi ada, melainkan manusia dibentuk dengan tujuan agar dapat menjadi pribadi yang sempurna seperti diri-Nya.  Hal tersebut ditegaskah dalam suatu nas:

“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, kesempurnaan menjadi salah satu perintah Allah kepada umat manusia agar bersedia memproses dirinya bersama dengan tuntunan Allah untuk mencapai kesempurnaan ilahi seperti yang difirmankan-Nya:

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna."

Sesuai firman, kesempurnaan bukanlah suatu pilihan, melainkan keharusan. Tentu saja, kesempurnaan bagi manusia tidak akan sama dengan kesempurnaan Allah, melainkan kesempurnaan dalam batas sempurna seperti Allah. Kesempurnaan dengan segala kemuliaan dan hormat disediakan oleh Allah bagi tiap pribadi dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di seluruh muka Bumi.

Tujuan kesempurnaan manusia
Allah sebagai Pribadi Yang Sempurna tentu tidak dapat dipahami dengan sempurna oleh manusia. Keterbatasan manusia tidaklah mungkin mampu mengenal Allah yang tak terbatas. Mungkin, jika menggunakan perbandingan antara manusia dan Allah, manusia bernilai satu sedangkan Allah bernilai tak terhingga (1:~). Sebagai ciptaan, manusia hanya mampu memahami sebagian kecil saja dari diri Sang Pencipta.

Dalam keberadaan-Nya yang sempurna, Allah berkenan ditemukan oleh ciptaan-Nya. Tentu Allah mengenal siapa manusia ciptaan-Nya. Namun sebaliknya, bagi manusia yang tidak pernah melihat Allah, bagaimana mungkin dapat mengenal-Nya? Sementara Allah bersemayam dalam terang yang tak terhampiri? Suatu hal yang mustahil, baik bagi manusia maupun bagi makhluk lain untuk dapat menggapai Allah.

Sebagai Allah yang sempurna dan tak terbatas, yang tidak mungkin dapat dilihat oleh ciptaan-Nya, maka Allah yang tak terbatas berkenan membatasi diri-Nya agar keilahian-Nya dapat disentuh dan dipegang oleh ciptaan-Nya, dengan tujuan agar segala makhluk dapat menemukan diri-Nya.

Memang, dalam keberadaan Allah yang sesungguhnya, tak seorangpun dapat melihat-Nya, dan tak satu makhluk pun dapat menjamah-Nya, seperti yang tertulis:

“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia.”

Dalam hal ini, untuk mengelola dan menjembatani antara diri-Nya yang tak terbatas dengan ciptaan-Nya yang terbatas, Allah berkenan membatasi diri-Nya. Sebagai Roh Yang Sempurna, Allah berkenan menyatakan diri-Nya dalam rupa yang dapat ditangkap oleh segala makhluk. Rupa Allah yang telah dibatasi (diselaraskan) tersebut adalah bagian dari diri-Nya yang telah disetarakan dengan ciptaan-Nya, dengan tujuan agar ciptaan-Nya dapat berbahasa dengan-Nya. Bagian dari diri Allah yang telah disetarakan tersebut ada di dalam rupa Yesus Kristus, dimana seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Sebab tanpa Allah berkenan menyatakan diri dalam rupa “ciptaan” maka Allah Yang Roh tidak mungkin dapat dijangkau oleh ciptaan-Nya.

Seperti seorang ayah yang harus “menjadi bayi” untuk dapat berbicara dengan anaknya yang masih bayi,- seorang bayi tidaklah mungkin dapat memahami bahasa ayahnya jika sang ayah mempergunakan bahasa orang dewasa saat berbicara dengan sang bayi. Kala itu, sang ayah tertawa seperti bayi, bermain seperti bayi, berbicara seperti bayi dan segala sesuatu berlaku dan bertindak seperti bayi demi tujuan agar dapat berkomunikasi dengan bayinya; dan ia rela untuk “menjadi bayi”. Namun kelak, tatkala sang bayi telah dewasa, sang ayah tidak perlu lagi “menjadi bayi”, melainkan ia menjadi ayah yang dapat berkomunikasi dengan putranya, bahkan dapat menjadi sahabat dan berkarya bersama-sama. Untuk itulah Allah berkenan “menjadi ciptaan” untuk dapat mengimbangi kemampuan ciptaan-Nya yang terbatas, sampai waktunya kelak ciptaan-Nya bertumbuh menjadi dewasa dan dapat semakin mengenal Allah dengan sempurna.

Jika Allah berkenan merendahkan diri sedemikian rupa untuk ciptaan-Nya, maka manusia juga dituntut oleh Allah agar bersedia meningkatkan mutu rohnya dengan jalan memproses dirinya agar dapat mengenal Allah dengan sempurna. Dalam hal ini, Allah berkenan menyetarakan diri-Nya menjadi “ciptaan” agar dapat digapai oleh ciptaan-Nya, dan manusia diharapkan meningkatkan mutu rohnya untuk menggapai kesempurnaan agar dapat menggapai Allah. Inilah titik temu yang dikehendaki Allah atas kesempurnaan manusia, yaitu “kesetaraan” antara Allah dan manusia, sehingga manusia dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi, menjadi satu dengan Allah, dan dapat menjadi rekan sekerja Allah untuk berkarya dalam Injil Kerajaan Allah. Dengan demikian, digenapilah firman:

"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku."

Perlu ditegaskan bahwa, "kesetaraan" manusia dengan Allah bukan berarti manusia telah sama dengan Allah atau Allah sama dengan manusia,- karena ciptaan tidak akan pernah menjadi sama dengan Penciptanya, namun "kesetaraan" manusia hanya sebatas gambar dan rupa Allah, seperti tertulis:

"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Dengan tercapainya "kesetaraan" antara manusia dengan Allah, maka tujuan atas kesempurnaan roh manusia terpenuhi, yaitu agar manusia dapat mencapai tingkatan menjadi anak Allah atau manusia Allah, yaitu manusia yang berkodrat ilahi: yang dicipta, dibentuk; berkarakter ilahi; yang memiliki kehendak, pertimbangan, pemikiran, tindakan, karya serta kemuliaan seperti Allah, sehingga manusia dipandang layak menjadi kawan sekerja Allah, baik di Bumi maupun di Sorga dalam Injil Kerajaan Allah yang kekal. Dengan jalan mencapai kesempurnaan roh, kelak manusia layak untuk menerima janji-janji Allah.

"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."

Dalam suatu nas lain juga dikatakan:

"Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu."

Proses penyempurnaan dimulai sejak sebelum dunia dijadikan
Allah, sebagai Sang Pencipta atas segala sesuatu; yang menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, untuk masa dahulu, sekarang, maupun untuk masa yang akan datang, baik yang di Bumi maupun di Sorga, untuk semuanya itu Allah menghendaki agar segala sesuatu yang diciptakan-Nya menjadi sempurna, termasuk didalamnya adalah kesempurnaan manusia. Kesempurnaan manusia menjadi salah satu tujuan utama Allah dalam menciptakan segala sesuatu. Kualitas kesempurnaan yang dikehendaki Allah atas roh manusia adalah sempurna seperti diri-Nya, yaitu kesempurnaan menjadi manusia Allah dengan berkodrat ilahi yang memiliki kehendak, pertimbangan, pemikiran, tindakan, karya serta kemuliaan seperti Allah. Tentu, kesempurnaan yang dimaksud dalam ukuran sempurna seperti Allah dan bukan sama dengan Allah. Sebab, tak satu makhluk pun yang dapat sama dengan Allah.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, Allah memproses roh manusia semenjak diciptakan (baca: dilahirkan dari Roh),- tahap demi tahap hingga mencapai tujuan atas penciptaan roh manusia, yaitu kesempurnaan. Dan untuk segala sesuatunya, Allah menciptakan sarana dan prasarananya agar menunjang pertumbuhan roh manusia.

Sebelum dunia dijadikan, Allah telah menciptakan roh manusia. Sebelum menciptakan roh manusia, Allah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, mulai dari perencanaan, manajemen, asal muasal roh, bahan dasar tubuh alamiah serta sarana dan prasarana yang akan menunjang proses penciptaan dan pembentukan manusia baik selama di Bumi maupun di Sorga,-  termasuk sistem pemulihan jika suatu saat roh manusia tersebut jatuh dalam dosa, hingga mencapai tujuan penciptaan atas makhluk manusia, yaitu kesempurnaan. Dengan dipersiapkannya segala sesuatunya dengan sempurna, diharapkan suatu saat pada tingkat tertentu manusia dapat menjadi anak Allah, yang memiliki kapasitas menjadi pemimpin sorgawi dalam Injil Kerajaan Allah seperti yang dikehendaki-Nya.

Sekilas penciptaan roh manusia dan tubuh manusia
Secara garis besar, manusia diciptakan memiliki dua unsur utama, yaitu tubuh rohaniah (roh) dan tubuh alamiah (tubuh dan jiwa). Dan jika dirinci lebih detail, manusia memiliki tiga unsur, yaitu roh, tubuh dan jiwa. Di dalam penciptaan pun manusia diproses dalam waktu dan bahan dasar yang berbeda. Roh manusia diciptakan sebelum dunia dijadikan, seperti yang tertulis di dalam kitab:

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”

Tentu yang dimaksud dengan “kita” adalah tubuh rohaniah (roh) dan bukan tubuh alamiah (tubuh dan jiwa), sebab sebelum dunia dijadikan, tubuh alamiah belum ada. Jika roh telah dipilih sebelum dunia dijadikan, berarti roh diciptakan sebelum dunia ada.

Tubuh alamiah dibentuk pada saat dunia dijadikan. Setelah tubuh alamiah dibentuk dari debu tanah, kemudian nafas hidup atau tubuh rohaniah (roh) yang diciptakan sebelum dunia dijadikan dihembuskan ke dalam hidungnya, maka menjadi makhluk hidup, seperti yang tertulis di dalam kitab:

“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang,  sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu - ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Hal tersebut juga dilengkapi dengan ayat yang berkata:

“Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.”

Dengan demikian, roh manusia diciptakan jauh hari sebelum langit dan Bumi diciptakan. Sebelum bintang-bintang terbentuk dan galaksi-galaksi menghiasi jagat raya, roh manusia telah ada. Roh manusia terlebih dahulu diciptakan oleh Allah dan ditempatkan di Sorga. Allah menciptakan roh manusia dalam jumlah tertentu, dan masing-masing roh memiliki nama pribadi. Kala itu, roh manusia belum memiliki tubuh alamiah. Kelak, tatkala sarana dan prasana telah siap, yaitu pada saat Bumi diciptakan, Allah akan membentuk tubuh alamiah manusia dari debu tanah. Pada saat itulah salah satu roh manusia dikirim dari Sorga ke Bumi dan ditempatkan di dalam tubuh alamiah yang telah diciptakan-Nya. Manusia tersebut yang kemudian hari dikenal sebagai Adam, yaitu manusia pertama yang diciptakan oleh Allah di Bumi. Lalu Allah menempatkan Adam manusia pertama tersebut di Taman yang berada di area Eden. Kemudian Allah membangun dari salah satu rusuk Adam tubuh seorang perempuan, lalu Allah mengirim salah satu roh yang lain dalam tubuh tersebut yang dikemudian hari dikenal sebagai Hawa. Setelah Adam dan Hawa diciptakan, untuk penciptaan manusia selanjutnya di Bumi, Allah bekerja sama dengan Adam dan Hawa. Adam dan Hawa mempersiapkan tubuh alamiah dari hasil persetubuhan mereka, dan Allah akan menempatkan roh dari Sorga dalam janin yang akan dikandung oleh Hawa. Demikianlah perkembangan manusia dikemudian hari dilanjutkan oleh keturunan Adam dan Hawa sampai jumlah yang telah ditentukan oleh Allah terpenuhi.

Masa permulaan yang tak berujung, masa sekarang dan masa yang akan datang
Sebelum segala sesuatu yang diciptakan menjadi ada, Allah telah ada. Allah adalah ada, artinya Allah tidak pernah tidak ada. Ia tak berawal dan tak berakhir. Allah ada dan ada, Ia kekal. Berbeda dengan ciptaan, semua ciptaan Allah pernah tidak ada dan bisa kembali tidak ada. Namun, tidaklah demikian dengan Allah. Allah adalah ada dan selalu ada. Allah telah ada dalam masa permulaan yang tak berujung. Tak satu mahkluk pun memiliki pengetahuan untuk masa itu. Sebab masa itu adalah masa kekal dimana belum ada yang lain selain Allah. Kelak, tatkala Allah menciptakan segala sesuatu, barulah akan ada apa yang disebut dengan masa dahulu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa dahulu merupakan masa yang telah berlalu, masa sekarang merupakan waktu yang sedang dijalani oleh setiap makhluk pada zamannya, sedangkan masa yang akan datang merupakan masa yang belum dijalani oleh siapapun, suatu masa yang tak berujung dan tak berkesudahan.

Seperti telah kita ketahui, sebelum langit dan Bumi dijadikan, roh manusia telah ada di Sorga. Allah menetapkan agar roh manusia memiliki standar hidup seperti diri-Nya, yaitu kudus dan tak bercacat atau sempurna, seperti tertulis:

“Allah telah memilih kita (roh manusia karena pada saat itu tubuh belum ada) sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”

Suatu standar hidup sorgawi bagi setiap roh manusia. Di Sorga roh manusia mengalami pertumbuhan dalam peradaban sorgawi. Proses menuju kesempurnaan roh dimulai dari sana. Roh tumbuh sebagai makluk Sorga dalam naungan Injil Kerajaan Allah dengan tata kelola kehidupan sorgawi. Berkeliling mengelilingi takhta Allah, menyembah dalam ibadah sorgawi.

Sesuai dengan tujuan Allah menciptakan roh manusia, yaitu kesempurnaan, Allah mendidik roh manusia agar memiliki mutu roh seperti diri-Nya. Selain proses penyempurnaan diselenggarakan di Sorga sebagai tempat asal muasal roh manusia, Allah juga akan memproses roh manusia di luar Sorga, yaitu  ke tempat lain yang bersifat fana (sementara) yang memiliki situasi dan kondisi yang jauh berbeda dengan keadaan sorga. Jika Sorga penuh dengan kemuliaan Allah dalam damai sejahtera, tempat yang akan dipergunakan sebagai area pendidikan dan seleksi roh manusia kelak memiliki berbagai situasi dan kondisi yang lain. Tempat tersebut yang kemudian hari di kenal sebagai dunia, yaitu langit dan Bumi, bintang-bintang, galaksi-galaksi serta segala isi jagat raya yang diciptakan untuk tujuan pendidikan dan penyeleksian roh manusia. Jika suatu saat tujuan Allah atas keberadaan roh manusia di Bumi terpenuhi, maka tempat tersebut akan ditiadakan, yang dikemudian hari dikenal sebagai kiamat. Kiamat merupakan berakhirnya langit dan Bumi serta segala isinya setelah tujuan Injil Kerajaan Allah yaitu untuk pendidikan, seleksi dalam rangka penyempurnaan manusia di Bumi terpenuhi. Pada saat itulah langit dan Bumi serta isinya akan lenyap dan tidak ditemukan lagi.

Setiap roh manusia yang akan turun ke dunia diberikan berbagai bekal, sarana dan prasarana. Secara umum, tiap pribadi yang akan turun ke dunia atau ke Bumi akan dilengkapi dengan tubuh alamiah. Selain itu mereka juga memiliki gulungan kitab pribadi (buku panduan sorgawi) dari Allah. Di dalam gulungan kitab terdapat kebenaran tentang tuntunan dan pedoman yang terkait dengan keberadaannya di dunia, yang antara lain berisikan tentang jati diri serta tugas-tugas dari Allah yang harus dikerjakan dan diselesaikan selama di dunia. Tugas utama selama di Bumi bagi tiap roh manusia pada umumnya adalah untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah atas dirinya. Tugas roh manusia yang satu dengan yang lain bisa sama dan bisa berbeda, tergantung kesepakatan dirinya dengan Allah.

Jika roh manusia telah selesai mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya selama di Bumi, maka roh manusia akan meninggalkan tubuh alamiahnya dan kembali meneruskan perjalanan ke tempat lain untuk melanjutkan pendidikan dan penyempurnaan dirinya. Proses roh meninggalkan tubuh alamiah itulah yang disebut dengan kematian. Tubuh kembali menjadi tanah dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Firdaus maupun kelak setelah kiamat kembali ke Sorga dengan mutu roh yang lebih tinggi dibanding pada saat akan turun ke dunia.

Tentu, roh manusia yang dapat melanjutkan proses penyempurnaan ke Firdaus adalah roh yang melakukan kehendak Allah atas dirinya selama di Bumi. Bagi roh yang tidak melakukan dan tidak menyelesaikan kehendak Allah atas dirinya - dan bahkan sebaliknya berdosa melawan Allah, maka roh manusia tidak dapat melanjutkan perjalan ke Firdaus, namun harus menjalani pertanggungjawaban roh atas segala yang dikerjakan di Bumi, memasuki dunia orang mati, yaitu Alam Maut tempat yang gelap gulita dengan nyala api panas dan penuh dengan penderitaan sampai segala pertanggungjawaban dan waktu yang ditentukan oleh hukum dosa dan hukum maut selesai, hingga penghakiman di akhir zaman.

Kini kita ketahui bahwa tujuan Allah menciptakan dunia (alam semesta), yang di dalamnya terdapat berbagai benda jagat raya seperti Bumi, Bulan, bintang-bintang, galaksi-galaksi, cakrawala dan lain sebagainya, adalah sebagai tempat pendidikan, penyeleksian roh manusia yang turun dari Sorga dalam rangka memproses roh manusia menuju kesempurnaan. Dan bahwa roh manusia berasal dari Sorga yang diciptakan oleh Allah sebelum dunia dijadikan.

Kehadiran roh manusia di dunia
Setiap roh manusia yang datang ke dunia dilengkapi dengan tubuh alamiah yang berasal dari Bumi. Tubuh alamiah diciptakan dari hasil persetubuhan laki-laki dan perempuan. Tatkala sel sperma dan sel telur bertemu, maka akan terjadi pembuahan dan akan menjadi calon anak. Roh manusia akan dikirim oleh Allah dari Sorga dan ditempatkan dalam tubuh calon anak tersebut semenjak di dalam kandungan sehingga menjadi manusia. Hal tersebut tertulis dalam kitab:

“Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.”

Kini, jika dirinci lebih detail, manusia memiliki tiga unsur, yaitu roh yang berasal dari Sorga, tubuh dan jiwa yang berasal dari Bumi.

Kehidupan manusia dalam kandungan
Tatkala roh manusia telah dikirim ke dunia, semenjak di dalam kandungan selagi calon anak, roh manusia telah memulai kehidupan barunya. Roh manusia telah memulai pekerjaannya untuk memimpin tubuh alamiahnya, yaitu tubuh dan jiwa agar hidup selaras dengan kehendak Allah, sehingga roh, tubuh dan jiwa dapat bekerjasama selama di dunia untuk melakukan seluruh kehendak Allah atas dirinya, dan menyelesaikan tugas roh yang telah tertulis di dalam kitab Allah yang akan dijalani selama kehidupannya di dunia.

Pada dasarnya, roh, tubuh dan jiwa manusia telah menyadari keberadaan dirinya semenjak di dalam kandungan untuk hidup selaras dengan kehendak Allah. Hal tersebut dinyatakan dalam suatu nas:

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.”

Dari nas tersebut kita ketahui bahwa, sebelum roh manusia datang ke dunia, ia telah memililki suatu ketetapan dengan Allah yang tertuang atau tertulis di dalam kitab Allah, yang berisikan antara lain tentang jati diri maupun tugas dari Allah untuk dikerjakan dan diselesaikan selama di dunia pada hari-hari yang akan dibentuk sebelum semuanya ada.

Kehidupan manusia di dunia
Setelah manusia dilahirkan di dunia, seakan-akan tidak tahu apa-apa, namun jika ditengok ke belakang, sesungguhnya semenjak di dalam kandungan, roh, tubuh dan jiwa telah menyadari keberadaanya di dunia, yaitu untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas dari Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah di dunia, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengingat, mencari, menemukan, mengerjakan dan menyelesaikan segala sesuatu yang telah tertulis di dalam gulungan kitab bagi dirinya, sehingga kedatangannya di dunia sesuai dengan rencana Allah, yaitu memproses dirinya untuk mencapai kesempurnaan. Tugas tersebut juga dimiliki oleh Yesus Kristus tatkala datang ke dunia menjadi manusia:

“Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”

Tugas Yesus Kristus yang utama adalah untuk membawa Injil Kerajaan Allah ke Bumi. Ia mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diembankan oleh Allah untuk menyampaikan Injil Kerajaan Allah kepada seluruh umat manusia hingga selesai. Dalam suatu kesaksian-Nya Ia berkata:

“Aku telah mempermuliakan Engkau di Bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”

Kita dapat menemukan contoh manusia di dunia yang telah menemukan tugasnya di Bumi, antara lain seperti Musa yang bertugas menurunkan Kitab Taurat, Yohanes Pembaptis yang bertugas mendahului Tuhan menyiapkan jalan bagi-Nya, Paulus yang bertugas memberitakan Injil Kerajaan Sorga kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, para nabi dan masih banyak manusia di Bumi yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Menemukan, mengerjakan dan menyelesaikan tugas ilahi di Bumi
Setiap manusia yang ciptakan Allah mempunyai tugas atau pekerjaan dari Allah untuk dikerjakan. Manusia harus mengingat, mencari, menemukan, mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan yang telah Allah sediakan sebelum roh kita (roh manusia) turun ke dunia - maupun mungkin ada pekerjaan tambahan lain yang ditugaskan kepada tiap pribadi. Tentang pekerjaan roh manusia, dalam surat Efesus tertulis:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Oleh karenanya setiap manusia harus menemukan gulungan kitab untuk dirinya agar dapat mengetahui segala sesuatu yang tertulis bagi dirinya dan bergegas melakukan segala tugas dan menyelesaikan bagi kemuliaan Allah. Jika manusia telah kembali memiliki kesadaran roh bahwa keberadaannya di dunia adalah untuk melakukan dan menyelesaikan pekerjaan yang telah Allah siapkan sebelumnya, maka manusia akan kembali memiliki tujuan atas keberadaannya di Bumi, yaitu dalam rangka penyempurnaan roh dengan jalan melatih diri untuk taat kepada Allah dengan melakukan dan meyelesaikan pekerjaan yang Allah tugaskan.

Tatkala roh, tubuh dan jiwa telah sejalan dan seiring untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah bagi dirinya, maka pada saat itulah kesempurnaan manusia di Bumi tercapai. Roh, tubuh, dan jiwa kedapatan kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan.

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Kesempurnaan manusia Allah
Pada saat Allah memandang bahwa manusia sedemikian mengasihi Allah dengan hidup sesuai dengan kehendak-Nya, maka Allah akan menyempurnakan manusia lebih lagi dengan kesempurnaan yang lebih dalam. Kesempurnaan tersebut yang disebut kesempurnaan manusia Allah, yaitu manusia berkodrat ilahi yang memiliki kehendak, pemikiran, pertimbangan, tindakan, karya dan kemuliaan seperti Allah. Kesempurnaan yang demikianlah yang dikehendaki Allah atas manusia, seperti yang diperintahkan-Nya:

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Tatkala manusia pada tingkat tertentu memiliki kesempurnaan seperti Allah, hal tersebut akan memudahkan Allah untuk bekerjasama dengan manusia. Tentu Allah sangat “kesulitan” bekerjasama dengan manusia jika manusia masih berorientasi di luar kehendak-Nya. Namun, akan sangat mudah jika manusia juga memiliki pikiran dan perasaan seperti diri-Nya.

Saat yang tepat bagi roh manusia meninggalkan dunia
Jika roh manusia telah menyelesaikan tugasnya di Bumi, pada saat itulah waktu yang tepat bagi roh manusia untuk meninggalkan tubuh alamiahnya dan kembali meneruskan perjalan ke tempat lain untuk melanjutkan pendidikan dalam rangka penyempurnaan dirinya. Pada saat tubuh alamiah ditinggalkan oleh rohnya, itulah yang disebut dengan kematian. Memang, pada hakekatnya tubuh tanpa roh adalah mati - seperti yang tertulis:

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”

Tubuh alamiah kembali menjadi debu tanah dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya, baik untuk melanjutkan perjalanan penyempurnaan selanjutnya ke Firdaus maupun kelak setelah kiamat kembali ke Sorga untuk menggapai kesempurnaan yang sejati dan berkarya bersama Allah bagi kemuliaan-Nya.

Injil Kerajaan Allah sebagai Manajemen Allah atas segala ciptaan-Nya, dimana Allah sebagai pusat pimpinan, dan sumber dari segala sesuatu, di Bumi dan di Sorga memberikan peluang yang sama kepada setiap manusia yang berasal dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di bawah kolong langit, untuk menemukan tujuan hidupnya di dunia, yaitu menggapai kesempurnaan manusia Allah.

"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi."

###

Saling menyempurnakan dalam kasih dan kebenaran
Sahabat, Allah menghendaki agar manusia bertumbuh menggapai kesempurnaan roh seperti diri-Nya. Kesempurnaan menjadi salah satu tujuan Allah menciptakan manusia. Kesempurnaan dan kemuliaan serta kehormatan disediakan Allah bagi tiap pribadi dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di seluruh muka Bumi bagi kemuliaan-Nya. Kelak, manusia yang mampu menggapai kesempurnaan dalam Injil Kerajaan Allah akan memiliki status sebagai manusia Allah atau anak Allah, seperti yang telah difirmankan-Nya:

"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan."

Dalam Injil Yohanes juga dikatakan:

Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis... Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah -- sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?"

Untuk menggapainya, diperlukan proses yang panjang...

Sahabat, kini kita telah disadarkan, bahwa kehadiran tiap manusia ke dunia adalah dalam rangka penyempurnaan roh, yaitu roh kita yang berasal dari Sorga. Jika kita mulai menyadari bahwa keberadaan manusia di dunia dalam rangka penyempurnaan, dan Sahabat rindu serta bertekad untuk menggenapi seluruh kehendak Allah dan mempersiapkan diri untuk diproses guna menggapai kesempurnaan, mari melangkah dengan sepenuh hati memasuki Injil Kerajaan Allah. Di dalam Injil Kerajaan Allah kita akan diproses oleh Yesus Kristus secara pribadi. Di dalamnya kita dapat merasakan proses menuju kesempurnaan, dan berkesempatan untuk saling mengasihi dan saling menyempurnakan dalam kebenaran, dan berkarya bersama-sama dengan Allah, baik di dunia maupun dalam kekekalan di dunia yang akan datang.

Sahabat, untuk berbagi dan untuk saling menyempurnakan, silahkan menghubungi kami! Kita berkesempatan belajar bersama-sama untuk meraih kesempurnaan roh, tubuh dan jiwa menuju kesempurnaan ilahi dalam Injil Kerajaan Allah, baik di Bumi, Firdaus maupun di Sorga.
Share:

Kesempurnaan Manusia

Injil Kerajaan Allah - Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Hal tersebut terjadi karena kodrat manusia yang dikaruniakan oleh Allah memiliki tiga unsur utama, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain, misalkan malaikat. Malaikat memiliki roh namun tidak dikaruniakan tubuh dan jiwa seperti halnya manusia. Demikian halnya dengan binatang yang memiliki tubuh dan jiwa, namun tidak memiliki roh. Oleh sebab itu, manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang sempurna yang memiliki tubuh, jiwa dan roh sebagai kesatuan di dalam dirinya. Tentu saja, kesempurnaan manusia memiliki tujuan atas kesempurnaannya.

Keberadaan tubuh manusia dapat dilihat dengan mudah. Mata, tangan, kaki, kepala, telinga, hidung, leher, dada dan anggota tubuh yang lain merupakan kesatuan yang membentuk tubuh manusia. Keberadaan jiwa pun dapat dirasakan oleh kehadiran hati dan pikiran tatkala manusia merasakan kesenangan, kesedihan, semangat, cinta, perjuangan, harapan, kenikmatan dan lain sebagainya. Sedangkan keberadaan roh manusia dapat dirasakan tatkala manusia merasakan kerinduan untuk kembali ke Sorga, kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan, kerinduan akan kebenaran Sorgawi yang hakiki, kerinduan untuk bertumbuh dalam keilahian dan bersukacita tatkala dapat melakukan segala perintah Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya. Kesatuan dari tubuh, jiwa dan roh itulah yang disebut manusia, dan memang demikianlah kodratnya.

Pengertian Kesempurnaan Manusia
Allah menciptakan manusia dengan memiliki tubuh, jiwa dan roh, dan ketiganya merupakan satu kesatuan. Allah menghendaki agar tubuh, jiwa dan roh tersebut bertumbuh dan berfungsi sempurna. Makna kesempurnaan atas tubuh, jiwa dan roh manusia terpenuhi tatkala ketiganya berfungsi sesuai dengan tujuan penciptaannya. Seperti kita ketahui bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia dalam keberadaannya bertumbuh dan beribadah kepada-Nya dengan melakukan segala perintah-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.

Sebagai contoh, saat tubuh dan jiwa manusia dipergunakan untuk melakukan kebenaran, cinta kasih, kebaikan, kesetiaan, keadilan, kemurahan, kelemahlembutan dan sejenisnya, maka tubuh dan jiwa manusia menjadi sempurna karena dipakai untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Sebaliknya, tatkala tubuh manusia dipergunakan untuk melawan kebenaran, seperti berzinah, mencuri, merampok, mencibir, menfitnah, melakukan riba, merugikan orang lain dan sebagainya, maka walau tubuh manusia secara jasmani dalam keadaan utuh dan tak bercacat, namun pada hakekatnya tubuh manusia tersebut tidaklah sempurna di hadapan Allah karena tubuhnya dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Demikian halnya dengan jiwa. Saat jiwa diisi dengan kebencian, dendam, kesombongan, amarah, kelicikan, kerakusan, kemunafikan, hawa nafsu, pembenaran diri dan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Allah, maka jiwa manusia menjadi tidak sempurna karena terisi dengan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Hal tersebut juga berlaku bagi roh manusia. Tatkala roh manusia dipergunakan untuk menyembah sesuatu yang bukan Allah, misalnya kemusyrikan (penyembahan berhala) seperti menyembah malaikat, memuja makhluk halus, memakai jimat kesaktian, jimat penglaris, jimat wibawa, jimat perlindungan, berhubungan dengan "arwah orang yang telah meninggal", menyembah jin, setan, pohon keramat, tempat keramat, melakukan sihir, mantera, pemanggilan arwah leluhur, roh peramal dan penyembahan berhala yang lain, maka roh manusia menjadi tidak sempurna di hadapan Allah, karena dipergunakan bukan untuk menyembah-Nya melainkan dipergunakan untuk menyembah sesuatu yang bukan Tuhan.

Roh, jiwa dan tubuh manusia menjadi sempurna tatkala dipergunakan untuk beribadah, yaitu menyembah Allah dalam kebenaran dengan mengalirkan dan memancarkan cinta kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri dan segala sesuatu yang ilahi.

Oleh karena itu, kesempurnaan manusia benar-benar terpenuhi tatkala tubuh, jiwa dan rohnya dipergunakan sesuai dengan tujuan Allah atas penciptaannya, yaitu bertumbuh dalam keilahian dan beribadah kepada Sang Pencipta. Amin.
Share:

Injil Kerajaan Allah

Injil Kerajaan Allah (IKA) merupakan Manajemen Allah atas segala ciptaan-Nya, dimana Allah sebagai pusat pimpinan, dan sumber dari segala sesuatu, di Bumi dan di Sorga.

Di dalam Injil Kerajaan Allah bersumber kebenaran hakiki tentang segala sesuatu; baik rahasia tentang Allah, maupun rahasia atas segala ciptaan-Nya; menyimpan kebenaran akan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan; untuk masa dahulu, sekarang, maupun masa yang akan datang dan dalam kekekalan. Di dalam Injil Kerajaan Allah disimpan segala kekayaan sorgawi: segala pengetahuan, hikmat, kebijaksanaan, pengertian, kasih, karunia, pengampunan, keselamatan, kemuliaan, kekudusan, kuasa, hukum, keadilan, kesempurnaan, serta segala sesuatu yang tak terkatakan yang melampaui segala pengetahuan manusia.

Suatu tata kelola kehidupan sorgawi yang mengalirkan suasana damai sejahtera yang melahirkan sukacita sorgawi yang abadi; sukacita ilahi yang bersumber dan memancar dari Allah bagi segala makhluk; baik bagi umat manusia dari segala bangsa, dan suku, dan kaum dan bahasa, dan bagi malaikat serta untuk segala makhluk sorgawi; menghadirkan hirarki kuasa Kerajaan Sorga, dan Allah sebagai Raja yang memimpin atas segala ciptaan-Nya, baik di Sorga maupun di Bumi, dalam kasih dan kebenaran sepanjang zaman.

Di dalam Injil Kerajaan Allah setiap makhluk diciptakan Allah dengan tujuan masing-masing. Dan oleh kasih dan kehendak-Nya, manusia direncanakan Allah untuk menjadi pribadi yang segambar dan serupa dengan-Nya, yaitu menjadi pribadi yang berkodrat ilahi, yang pada tingkatan tertentu menjadi pribadi sempurna yang mampu sehati sepikir dengan-Nya, dan yang layak menjadi kawan sekerja Allah, dan menjadi yang sulung atas segala ciptaan-Nya.

Dalam kasih dan oleh kerelaan kehendak-Nya, Allah menghendaki agar manusia menjadi pribadi yang sempurna seperti diri-Nya,- menjadi anak Allah atau manusia Allah, manusia yang berkodrat ilahi: yang dicipta, dibentuk; berkarakter ilahi; yang memiliki kehendak, pertimbangan, pemikiran, tindakan, karya, serta kemuliaan seperti Allah, yang kelak akan menjadi salah satu soko guru sorgawi dalam Injil Kerajaan Allah, dan yang akan memimpin atas segala makhluk, dan mengajarkan pelbagai ragam hikmat sorgawi yang tersembunyi dalam Allah, baik kepada manusia di Bumi maupun bagi pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa Sorga.

Sebagai kekuatan Allah yang tidak kelihatan, Injil Kerjaan Allah dapat digambarkan sebagai terang, sebagai air, sebagai udara, sebagai makanan dan minuman, sebagai Bumi, dan Injil adalah sumber damai sejahtera yang dibutuhkan oleh setiap umat manusia dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di seluruh dunia.

Injil adalah terang
Terang bercahaya menerangi kegelapan. Terang dibutuhkan oleh semua manusia. Injil dapat digambarkan sebagai Matahari yang menerangi Bumi. Matahari menerangi setiap orang, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di seluruh dunia. Semua makhluk hidup memerlukan terang untuk menjalani kehidupan. Tentu, tidak ada seorangpun yang tidak memerlukan Matahari. Tanpa terang, tidak akan ada kehidupan. Injil adalah terang yang kekal, yang menerangi setiap pribadi.

Injil adalah air kehidupan
Air mengalir membasahi Bumi, dan memberikan kehidupan kepada semua makhluk. Injil dapat digambarkan bagai mata air yang mengalirkan aliran-aliran air kehidupan. Semua manusia memerlukan air di dalam kehidupannya. Tak seorangpun yang tidak memerlukan air. Tanpa keberadaan air, dunia tidak ada kehidupan. Injil Kerajaan Allah adalah air, yang memberikan kehidupan kepada umat manusia.

Injil bagai udara
Udara tersebar di seluruh permukaan Bumi bagi kehidupan. Setiap manusia setiap saat menghirup udara untuk kebutuhan hidupnya. Tanpa udara, tak seorangpun dapat hidup. Tanpa menghirup udara, yang di dalamnya mengandung oksigen, nitrogen, dan gas-gas lainnya, manusia akan mati. Udara merupakan salah satu kebutuhan utama bagi kehidupan manusia. Injil bagaikan udara yang memberikan nafas kehidupan bagi setiap orang.

Injil bagai makanan dan minuman
Allah menyediakan makanan dan minuman bagi kehidupan manusia. Tak seorangpun dapat hidup tanpa makanan dan minuman. Makanan dan minuman menjadi kebutuhan utama manusia sepanjang kehidupannya. Injil bagaikan makanan dan minuman yang memberikan kehidupan bagi setiap orang di seluruh dunia.

Injil bagaikan Bumi
Bumi merupakan tempat manusia hidup,- tempat manusia berpijak. Tanpa Bumi, tak akan ada kehidupan. Jika Injil Kerajaan Allah digambarkan bagai Bumi, pada dasarnya, Injil adalah tempat pijakan bagi setiap orang. Siapakah manusia yang tidak memerlukan Bumi?

Injil adalah damai sejahtera
Setiap manusia memerlukan kenyamanan, ketenangan dan kebahagiaan. Setiap orang membutuhkan kelegaan dari segala beban dan permasalahan hidup. Injil adalah damai sejahtera yang memberikan jalan keluar yang mengalirkan rasa damai, aman dan tenang. Injil menuntun kepada perdamaian dunia, antara pribadi dengan pribadi, antara bangsa dengan bangsa, dan perdamaian di Sorga antara manusia dengan Allah. Injil Kerajaan Allah mengalirkan aliran-aliran kedamaian sorgawi bagi setiap orang yang mengasihi-Nya, sejak di dunia hingga dalam kekekalan setelah kematian.

Jika Injil Kerajaan Allah digambarkan bagai terang, bagai air, bagai udara, bagai makanan dan minuman, bagai Bumi, dan Injil adalah damai sejahtera, yang diperlukan oleh setiap umat manusia dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa di seluruh dunia, maka pada dasarnya Injil Kerajaan Allah dibutuhkan oleh semua umat manusia tanpa kecuali. Semuanya itu dibutuhkan oleh setiap orang.

Namun, pada zaman akhir, yaitu zaman sekarang, tatkala Injil Kerajaan Allah belum dapat sepenuhnya dipahami oleh manusia, kini sudah tiba saatnya Injil Kerajaan Allah dimengerti secara untuh dan sempurna. Pemahaman kebenaran Injil yang sempurna akan melahirkan pribadi yang sempurna. Injil Kerajaan Allah akan menuntun setiap pribadi yang memasukinya meraih kesempurnaan ilahi seperti yang difirmankan-Nya:

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna."

Di atas segala-galanya, baiklah setiap makhluk di Bumi maupun di dalam Sorga hidup beribadah sesuai dengan kehendak Allah; hidup sesuai dengan tujuan Allah atas penciptaan masing-masing, dan berkarya bagi Sang Pencipta; bagi TUHAN, Allah segala makhluk.

Sebab, segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Dia dan bagi kemuliaan-Nya, sampai selama-lamanya. Amin.

Salam Kasih, Injil Kerajaan Allah

Menyempurnakan Diri Dan Sesama Bagi Kemuliaan Allah
Share:

Ayat Rujukan

Matius 5:48
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu (Allah) yang di sorga adalah sempurna."

Mazmur 8:4-6
"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

I Timotius 6:11
"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
Kolose 1:28
"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus."

I Tesalonika 5:23
"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita."

Ibrani 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

I Timotius 6:16
"Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin."

Efesus 2:10
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."

Translate

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()

Follow by Email

Recent Posts